Thursday, 22 January 2015

Surat kerinduan untuk anak Papua

Swiss, 26 Desember 2014

Untuk adik-adik terkasih di Wamena

Wawawawawa, SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU untuk semua adik-adik dan keluarga di sana. Tuhan memberkati.
      Bagaimana kabar adik-adik di Wamena? Ibu guru berharap dan berdoa semoga semua selalu baik dan dilindungi Tuhan. Ibu guru rinduuuuu sekali dengan adik-adik. Masih ingat ibu guru kah tidak? Ini ibu guru Fatma yang dulu tinggal dekat rumah Misela. Ibu guru yang cerewet sekali!!!hehehe. Ibu guru minta maaf karena sudah lama tidak kasih kabar dengan adik-adik di sana. Sudah hampir 3 tahun kita berpisah. Ibu guru selalu ingat waktu indah di sana dengan adik-adik semua.
       Adik- adik pasti sudah besar-besar sekarang e?? Misela, Meliance, Elisabet, Lokamina, Arnold, Rosita, Elis, siapa lagi aduhh ibu guru ingat muka tapi lupa nama itu yang...aduh tidak baik sekali ibu guru ini.  Tapi tenang saja ibu guru masih punya foto adik-adik jadi tidak mungkin lupa muka. Adik-adik sudah kelas berapakah?
         Ibu guru mau cerita sedikit soal ibu guru punya hidup sekarang. Ibu guru sudah menikah dengan Om Patrick tanggal 16 agustus  2013 di Swiss. Kami sekarang tinggal di Swiss benua Eropa. Kalau adik-adik ada peta boleh lihat di dalam negara Swiss. Sekarang di sini sedang musim dingin, biasanya ada salju jadi dingin sekali, lebih dingin dari Wamena. Tapi tidak terus-terus dingin, karena di sini musim ganti-ganti terus setiap 3 bulan. Jadi musim dingin mulai bulan desember sampai bulan maret setelah itu sudah mulai hangat lagi sampai bulan juni. Setelah itu sudah jadi panas sampai bulan september. Tapi mulai september sudah mulai macam dingin biasa di Wamena sampai bulan desember. Begitu terus ganti-ganti 4 kali musim dalam satu tahun.

       Di sini ibu guru juga harus belajar bahasa asing, bahasa perancis. Satu tahun ibu guru les bahasa perancis supaya bisa bicara lancar. Sekarang ibu guru sudah mulai bisa bicara-bicara dengan orang walaupun belum mantap. Jadi ibu guru harus belajar terus. Ibu guru juga bekerja jadi guru untuk anak-anak kecil umur 2,5 tahun sampai 4 tahun. Mereka sangat lucu-lucu dan baik-baik. Ibu guru juga kasih ajar lagu Kucuci-cuci tanganku macam dulu kita bikin di rumah ibu guru. Tapi ibu guru kasih ajar dalam bahasa perancis, mereka suka sekaliiii. Waktu kasih ajar mereka, ibu guru selalu ingat adik-adik di Wamena. Adik-adik masih cuci tangan dengan bersih kah sekarang? Ibu guru pikir masih!!heheh
       Ibu guru pernah pulang ke Indonesia bulan juli lalu, tapi tidak dapat pergi ke Wamena. Tapi ibu guru dan Om Patrick akan datang kunjungi lagi suatu saat. Adik-adik berdoa e supaya kita bisa ketemu lagi. Ibu guru senang ada kaka Putri bisa antar surat ini untuk adik-adik.  Harus bilang terimakasih untuk kaka Putri ee. Kalau kalian mau balas bisa tulis tangan dan kasih ke kaka Putri nanti dia bisa kasih ke ibu guru.
      Pesan ibu guru, belajar baik, rajin berdoa, hidup sehat, sayang dengan orangtua, saudara dan teman-teman. Jangan lupa:IBU GURU SAYANG ADIK-ADIK SEMUA

Salam rindu, wawawawa

Ibu guru Fatma

Monday, 8 April 2013

Bercocok tanam di awal musim semi, menyenangkan :D

Pagi ini tidak seperti pagi sebelumnya dimana saya selalu bangun agak siang, ke kamar mandi, minum air putih, yogurt dan menikmati biskuit coklat, setelah itu bingung mau melakukan apa. Namun pagi ini sangat menyenangkan dan pastinya tidak membuat bingung. Saya diajak oleh Bernard (bapak dari pacar saya) untuk bercocok tanam di kebun  sebelah rumah. Dengan senang hati saya bergegas untuk mencari pakaian berkebun (tentunya harus cari-cari dulu di gudang bawah tanah). Bercocok tanam adalah kesukaan saya semenjak saya kecil. Tidak heran juga karena saya lahir di desa dimana pekerjaan utama masyarakat di desa saya dulu adalah bertani. Setelah berpakaian lengkap saya menuju ke  lokasi persis di sebelah rumah. Kami awali dengan menyelesaikan sepetak lahan yang belum disekop untuk membalikkan tanah di atasnya. Saya diberitahu cara membalikkan tanah menggunakan sekop, cara yang sama juga dilakukan oleh petani di Wamena, Papua. Berbeda dengan cara yang kami gunakan dahulu ketika saya kecil, dimana seluruh petani di kampung saya di Bage, Sumatera-Utara menggunakan cangkul 2 mata. Perbedaan ini bukan tanpa alasan, saya perhatikan keadaan tanah di Swiss dan di Wamena hampir sama yakni tidak berbatu sedangkan di kampung saya saat cangkul diarahkan ke tanah akan sering menubruk batu-batu kecil sehingga cangkul bermata dua sangat berarti untuk mencongkel batu dan menembus ke dalam tanah. Setelah proses membalikkan tanah selesai, dilanjutkan dengan meratakan tanah dengan alat seperti sendok garpu raksasa, lagi di kampung saya alat ini dinamai garpu. Tanah yang sudah rata ditaburi dengan kotoran ayam yang sudah diolah bercampur nitrogen, dll (kompos ini sudah dalam bentuk kering lho) untuk memberikan kesuburan bagi tanaman nantinya.
Nah tiba waktunya untuk menanam bermacam-macam benih dengan beberapa petak lahan yang sudah disiapkan: 3 jenis bawang, bawang merah, bawang goreng, bawang bombay, daun bawang, 2 jenis seledri, wortel, salad, bayam dan kentang. Biji bawang diatur berbaris di atas 2 petak tanah yangsudah  rata dengan jarak yang tidak terlalu rapat antara satu dengan yang lain. Kemudian biji bawang tersebut ditekan ke dalam tanah hingga ujungnya juga tertutupi oleh tanah. Saya teringat kembali dengan masa kecil yang indah saat saya, kakak dan orangtua akan menanami ladang dengan bawang merah. Saat itu lahan yang harus ditanami cukup luas dan membutuhkan tenaga kerja harian orang di kampung. Sehingga biji bawang yang ditanami tidak diatur sedemikian rapinya namun langsung ditanam tepat di garis yang sudah dibuat dengan memakai garpu. Saat itu kami harus melakukan penanaman dengan cepat karena ladang yang akan ditanami cukup luas. Nah untuk penanaman buah kentang sedikit berbeda dengan biji bawang. pertama sekali dibuat garis memanjang yang sedikit dalam, sebagai tempat buah kentang nantinya. Buah kentang diatur jaraknya dan dilakukan penutupan dengan tanah yang ditarik dari kedua belah sisi garis. Tanah tempat buah kentang ditanam haruslah berbentuk bukit. Untuk tanaman lain seperti, salad, daun bawang, seledri,wortel dan bayam  dilakukan penanaman ke dalam baris yaang sudah dibuat. Benih dalam bentuk biji-bijian yang cukup kecil. Setelah ditabur ke dalam tanah yang sudah digaris tadi, biji-biji tersebut akan ditutup kembali secara merata. Semua tanaman ini adalah jenis tanaman yang cocok dan bisa tumbuh subur di musim semi hingga musim panas. 
Proses penanaman sudah selesai, masih ada proses selanjutnya. Ini dia hal baru dan bisa menjadi contoh bagi saya sebagai orang yang tidak menyukai hal yang bersifat administratif. Bernard mengambil sebuah buku panjang dan menunjukkan dua lembar kertas kepada saya, kertas pertama berisi peta lahan dengan nomor di atasnya dan kertas kedua dengan daftar jenis tanaman. Nama semua tanaman yang sudah ditanam dan tanggal ditanam ditulis di lembar kedua. Tujuannya adalah jelas untuk memudahkan beliau mengikuti proses pertumbuhan tanaman. Tidak perlu heran, sama seperti kebiasaan hampir semua orang di Swiss, semua terencan dan harus dicatat dalam buku. Baik kegiatan pribadi maupun apalagi kegiatan bersama. Kebiasaan yang dulu saya lakukan saat bekerja, sepertinya harus dilakukan lagi. :)
Sungguh menyenangkan pagi ini dan saya membayangkan sayuran hijau dan berwarna di musim panas nanti ketika saya kembali ke tempat ini lagi. Bercocok tanam di daerah dengan empat musim tidaklah segampang di daerah dengan musim tropis. Sehingga orang di sini memikirkan apa yang bisa ditanam dan berguna di awal musim gugur dan musim dingin di masa depan. Tidak hanya dari ketersediaannya, kita bisa juga mendapatkan manfaat yang sangat sehat dengan mengkonsumsi sayuran segar hasil kebun sendiri. dengan demikian kita berkontribusi untuk mengurangi konsumsi atas sayuran yang sudah dikemas dalam kaleng. Tanaman sehat keluarga untuk keluarga sehat. Seperti halnya jiwa ekofeminis yang masih terus tertanam dalam diri saya, saya bahagia memberikan ruang hijau di alam, menanam, merawat, melindungi dan hidup bersama alam dimulai dengan melakukan hal kecil. Mari budayakan bercocok tanam dan jadilah sahabat bagi alam di sekitarmu.

Sunday, 7 April 2013

Terimakasih Dave Pelzer, Anda sangat luar biasa!

Tulisan ini adalah bentuk refleksi mendalam saya setelah selesai membaca 2 jilid buku yang ditulis oleh Dave Pelzer, The Child Called 'It' dan The Lost Boy. Adapun buku tersebut merupakan bagian dari Trilogi kisah nyata hidup si penulis. Saya masih harus mencari buku ketiga yang berjudul A man named Dave. Yakin pasti dapat sekembalinya saya ke Swiss di masa depan. 
Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca oleh siapapun tanpa terkecuali. Sebenarnya buku-buku tersebut sudah terbit pada jaman saya masih SMP, namun baru saat ini saya berjodoh untuk bertemu dengannya, di perpustakaan kota Lausanne, Swiss. Mungkin juga para pecinta buku sudah pernah membaca atau bahkan sedang membaca buku ini. Nah, buat pembaca blog ini dan kebetulan belum pernah membacanya, silahkan meluangkan waktu untuk mencari dan membacanya.
Alasan kenapa saya menyarankan dan mengajak anda untuk membaca buku ini adalah untuk membuka mata sekalian kita bahwa ada kisah kehidupan nyata yang bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua mengenai bagaimana seharusnya perlakuan yang ramah dan sehat terhadap anak. Saya yakin banyak kisah serupa dan mungkin lebih memilukan dibanding dengan kisah yang ada di dalam buku tersebut yang terjadi di masyarakat sekarang ini. Banyak kasus yang mungkin pernah kita lihat dan tonton di televisi yang menegaskan pada kekerasan anak. Pelakunya juga bervarisasi mulai dari saudara kandung, teman sepermainan, paman, kakek-nenek, guru di sekolah bahkan tidak jarang oleh orangtua sendiri. Alasan tindakan kekerasan yang dilakukan juga beragam. Yang paling sering terdengar adalah bahwa anak terlalu nakal, melawan, tidak bisa diatur sehingga pantas mendapatkan kekerasan.
Tidak jarang juga kita dengar pembenaran terhadap tindakan kekerasan terhadap anak tersebut, misalnya ada orangtua yang menganggap bahwa kalau anak dibentak, dipukul dan dihukum akan lebih mengerti dan menurut perintah orangtua. Bagaimana perasaan anda ketika anda sendiri menjadi saksi atas tindakan kekerasan tersebut? tidak peduli atau sedih?Apakah yang akan anda lakukan kemudian?diam, berlalu atau berbicara dengan pelaku kekerasan? Mungkin ada di antara kita yang beranggapan bahwa apabila kita menegur orang lain akan menyakiti perasaannya, akan merusak hubungan yang sudah berjalan baik akhirnya kita memutuskan biarlah itu urusan rumahtangga mereka. Mungkin pula ada yang berpikir bahwa tindakan kekerasan tersebut sudah terbiasa terjadi dan tidak perlu diurus. Ini menunjukkan bahwa kita apatis terhadap kenyataan yang terjadi di masyarakat yang secara jelas sudah menghancurkan masa depan banyak anak. Hal-hal mendasar ini berpengaruh besar terhadap komitmen kita tentang tindakan kekerasan terhadap anak!

Mari kawan bersama-sama kita berikan ruang ramah dan sehat bagi anak di sekitar kita, dimulai dari anak yang ada pada kita, anak di lingkungan rumah kita dan akan berimbas kepada anak di seluruh dunia. Saya bersyukur bisa membaca buku yang ditulis oleh Dave Pelzer dan dengan sangat bangga saya katakan bahwa dia adalah seorang korban di masa lalu namun di masa kini dia menjadi pejuang hak anak. Pembaca yang ingin tau banyak tentang beliau dan buku-bukunya bisa baca di situs pribadinya http://www.davepelzer.com/ 
Bravo Dave and all the children around the world!

Monday, 4 February 2013

Kekerasan Seksual pada Anak??


TIPS Mencegah Tindak Kekerasan Seksual

1. Pahami Hakekat Kekerasan Seksual
a. Tidak banyak orangtua yang sungguh-sungguh memahami hakekat
    kekerasan seksual.
b. Berbagai mitos melalui media dan informasi mengaburkan pemahaman
c. Orangtua perlu memiliki wawasan yang lebih terbuka


2. Jangan pernah beranggapan bahwa Anak Anda baik-baik saja
a. Mayoritas orangtua berpikir anak mereka terlindungi dengan baik.
b. Bila dites, ternyata tidak ada orangtua yang memiliki nilai yang
    meyakinkan bahwa orangtua memberikan perlindungan yang sangat baik.
c. Banyak orangtua masih melakukan kesalahan umum yang sebenarnya
    lebih memudahkan para pelaku kekerasan beraksi.
d. Jangan melakukan kesalahan dengan berasumsi bahwa anak Anda baik-
    baik saja dan mereka akan berceritera kepada Anda bila sesuatu terjadi.

3. Bahas semua masalah yang berhubungan dengan kekerasan
a. Anak Anda tidak akan terlindungi semata-mata karena Anda sudah
    berbicara dengan mereka tentang bagian tubuh mereka yang pribadi.
b. Ada berbagai konsep yang dapat dipakai untuk pencegahan dan hal itu
    perlu dibahas demi melindungi anak-anak kita, seperti bagaimana melatih
    anak, bagaimana sentuhan yang baik atau yang buruk, aturan dasar untuk
    pencegahan, pemahaman akan tubuh sendiri, bagaimana pemahaman
    masyarakat sehubungan dengan hal itu dan isu-isu lain sehubungan
    dengan kerentanan seorang anak.

4. Bahas Tentang Psikologi Kekerasan
a. Bangun pemahaman mereka tentang kerentanan mereka sehingga dapat
    menjadi sasaran.
b. Memberikan ketrampilan dan petunjuk praktis bagaimana secara
    psikologis bertahan menghadapi sebuah kejadian.   

5. Sekali saja belum cukup
a. Sadarlah bahwa memberikan kepada anak beberapa peraturan keamanan
    untuk dipatuhi, itu saja tidak cukup. 
b. Anak perlu memahami konteksnya, alasan di balik anjuran orangtua,
    mengapa mereka harus mengikuti peraturan itu.
c. Ulangi dengan tenang penjelasan sehingga mereka tahu apa yang
    harus dilakukan ketika sebuah situasi yang berbahaya mereka hadapi.
d. Sisihkanlah 10 – 15 menit sebelum mereka tidur, selama beberapa minggu,
    karena anak Anda perlu memiliki ketrampilan untuk melindungi diri.

6. Segeralah mulai ..........
a. Jangan menunda untuk membekali diri Anda segera agar mampu
    mendampingi anak.
b. Carilah bahan-bahan yang dapat dengan mudah membantu anak
    memahami bagaimana mereka harus melindungi diri mereka. 

Anak Belajar



Jika anak dibesarkan dengan celaan,
Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi
Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian,
Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan
Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
Ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
Ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.


Dorothy Nolte


Renungkan bagaimana generasi kita mendatang,
tergantung pada cara kita mempersiapkan dan
mendidik mereka, menopang mereka dalam
masa pertumbuhannya, & mendampingi
dalam masa perkembangannya.

Wednesday, 7 November 2012

Refleksi Perjalanan ke Desa Seima & Ugem

Belajar mengenai nilai-nilai budaya lokal yang terdapat dalam masyarakat sangatlah menarik. Banyak hal-hal baru yang sebelumnya tidak saya ketahui akhirnya terungkap di dalam masyarakat. Prinsip gotong-royong yang sangat kental yang terbentuk dalam masyarakat terlihat dalam hal pembangunan sarana-sarana umum seperti gereja, kantor desa dan Polindes. Bentuk gotong-royong yang dimaksud adalah mengambil kayu di hutan, menghaluskan, menyusun menjadi bangunan yang sebenarnya. Pohon milik pribadi akan direlakan oleh pemiliknya untuk disumbang kepada panitia pembangunan. Khusus untuk pembangunan kantor desa dan Polindes, pemerintah memberikan sumbangan dana sehingga proses pembangunan sarana-sarana tersebut berjalan dengan lancar. Namun untuk pembangunan gedung gereja, panitia samasekali tidak mendapatkan bantuan dana dari pemerintah, dana yang dipakai untuk penyelesaian gedung gereja tersebut adalah dana yang terkumpul dari setiap jemaat di distrik Mugi, dimana mereka berhasil mengumpulkan dana sebesar 10 juta per jemaat. Ini merupakan jumlah yang sangat besar akan tetapi karena kesetiaan jemaat mereka rela menyumbangkan dana tersebut dari hasil penjualan panen hasil pertanian mereka.
Pada saat peresmian di bulan Desember 2009 yang akan datang, masyarakat juga menyumbangkan satu ekor babi dari setiap rumah tangga untuk dibakar saat acara. Hal ini mereka lakukan adalah sebagai tanda ucapan syukur atas berdirinya gereja di desa Seima. Pendeta di jemaat tersebut mengatakan bahwa proses pembangunan gedung gereja berlangsung dengan cepat dan lancar selama tiga bulan dengan menyewa buruh bangunan. Gedung gereja bercat putih berdiri kokoh di lapangan  yang luas, sebagai hasil dari usaha masyarakat secara bersama-sama.
Ada hal unik lain yang penulis temukan selama mengamati proses pembangunan sarana-sarana umum di dalam masyarakat, yaitu bekerja dengan iringan lagu-lagu daerah yang dinyanyikan oleh bapak-bapak yang bekerja. Sebelum memulai pekerjaan di pagi hari, seorang bapak yang turun ke lapangan tempat mereka bekerja akan bernyanyi dan sedikit berteriak dengan lantunan nada-nada khas Papua. Hal ini menandakan bahwa ia mengajak teman-teman yang lain untuk segera datang dan turut membantu. Tidak berapa lama penulis melihat satu-persatu bapak-bapak yang akan bergotong-royong datang ke lapangan tempat mereka bekerja. Setelah semuanya berkumpul kemudian dibentuklah tim khusus untuk mengambil kayu di hutan. Sebelum berangkat tim tersebut akan berbaris rapi dan menyanyikan lagu-lagu daerah sebagai penyemangat dalam melakukan pekerjaan bersama-sama. Sepanjang perjalanan menuju tempat pengambilan kayu, semangat mereka masih tetap terdengar dari pemukiman penduduk. Sesekali terdengar lagu-lagu masih dinyanyikan dan berbaris dengan rapi menghadap ke arah pemukiman penduduk. Demikian halnya pada saat tim pengambil kayu kembali dengan kayu hasil dari pencaria di hutan, mereka disambut dengan lagu-lagu daerah oleh bapak-bapak lain yang berada di lapangan. Sungguh suatu kejadian baru yang sangat unik bagi penulis.
Saya menemukan sistem partisipasi yang sangat erat terbentuk dalam masyarakat. Dalam hal pembagian peran antara laki-laki dan perempuan juga terlihat sangat berbeda, baik dalam pertanian maupun dalam bergotong-royong. Dalam melakukan persiapan lahan, mulai dari pembukaan lahan, membabat, mencangkul hingga membersihkan lahan dilakukan kaum oleh laki-laki. Proses berikutnya dilakukan oleh kaum perempuan, yakni menyiapkan benih yang baik, menanam, merawat, menyiangi, memanen, menjual hasil di pasar hingga mengelola keuangan keluarga. Pembagian peran antara kaum laki-laki dan kaum perempuan dalam bergotong-royong membangun sarana umum juga terlihat jelas saat perempuan dikhususkan untuk memilih batu-batu di daerah berbukit dan mengangkutnya ke tempat yang sudah disediakan di dekat gedung yang sedang dibangun. Batu-batu tersebut nantinya akan dipakai untuk acara bakar batu dalam rangka peresmian gedung. Kaum laki-laki sendiri bekerja mengambil kayu, membelah kayu dan membentuk jadi bangunan.
Dalam hal pembagian peran-peran tersebut di atas penulis melihat bahwa prinsip maskulinitas laki-laki dan prinsip feminitas perempuan sangat terlihat jelas. Laki-laki melakukan hal-hal yang dianggap berat dan kasar sedangkan perempuan melakukan pekerjaan yang teliti dan lebih mengandalkan sifat feminitas perempuan yang mengandalkan kepedulian dan kelemahlembutan, seperti merawat, menanam dan memanen. Hal lain yang terlihat jelas dalam hal pembagian tempat untuk tidur bagi kaum laki-laki dan kaum perempuan. Mereka tidur terpisah di dalam honai (rumah tradisional) yang berbeda. Kaum laki-laki akan tidur di honai laki-laki dan sebaliknya kaum perempuan akan tidur di honai perempuan walaupun sebenarnya mereka memiliki rumah sehat yang layak. Demikian halnya dengan anak-anak mereka, anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan yang sudah dewasa akan tidur dengan ayah dan ibu mereka masing-masing sesuai dengan jenis kelamin masing-masing. Akan tetapi khusus untuk anak-anak yang masih kecil baik laki-laki ataupun perempuan akan tidur bersama dengan ibu mereka. Selain honai laki-laki dan honai perempuan, ada juga honai umum yang disediakan untuk kumpul atau pertemuan dan doa bersama jemaat. Satu jenis honai lain ialah honai yang diisi oleh keluarga sebagai tempat tinggal, terdapat dapur dan kandang untuk hewan peliharaan mereka di dalamnya menjadi satu.
Selain nilai-nilai budaya positif yang mendukung yang terlihat jelas oleh penulis, ada juga nilai-nilai yang negatif yang menghambat perkembangan pendidikan bagi anak-anak. Hal tersebut penulis amati saat mengadakan permainan bersama dengan anak-anak di halaman depan Pusat Belajar Anak (PBA) Seima. Di tengah permainan bersama dengan anak-anak, bapak-bapak yang sedang bekerja mengangkat dan mengumpulkan kayu untuk dijemur berteriak ke arah kami. Saat itu penulis tidak mengerti apa yang disampaikan oleh bapak tersebut, namun setelah bertanya kepada anak-anak yang sedang bermain penulis baru memahami maksud bapak-bapak tersebut, yakni agar anak-anak ikut membantu mengangkat dan mengumpulkan kayu-kayu. Anak-anak sedang menikmati permainan dan mereka tidak mau untuk beranjak membantu kelompok bapak-bapak tersebut. Namun penulis terkejut saat seorang bapak mendatangi ke arah kami dan melihat wajah anak-anak yang malas dan ketakutan. Bapak tersebut menyampaikan bahwa mereka membutuhkan tenaga anak-anak untuk mengangkut kayu-kayu, baik anak-anak laki-laki maupun anak-anak perempuan. Penulis mengakui kecewa dengan apa yang disampaikan oleh bapak tersebut dan membiarkan anak-anak untuk menurut kepada bapak-bapak yang bekerja. Mereka menganggap bahwa hal tersebut adalah adat yang harus ditaati di dalam masyarakat, yang sebenarnya bagi penulis tidak wajib berlaku untuk anak-anak yang masih di bawah umur dan sedang menikmati waktu bermain dan belajar di PBA. Sangat ironis saat anak-anak menikmati waktunya di PBA akan tetapi mereka tepaksa untuk membantu pekerjaan orang dewasa.
Masalah lain juga terlihat dalam bidang pendidikan anak-anak, dimana orang tua tidak terlalu memperdulikan apakah anaknya berangkat ke sekolah atau tidak. Orang tua tidak menjalankan peran sebagai orang yang memotivasi anak untuk tetap rajin belajar, sehingga anak tidak menganggap bahwa belajar merupakan kewajiban sebagai anak. Dari pihak sekolah sendiri sebagai instansi yang mendidik anak juga masih menunjukkan banyak kekurangan. Selama satu minggu berada di desa Seima, penulis tidak melihat ada proses belajar mengajar di sekolah. Saat saya bertanya kepada murid-murid yang sedang bermain bola, mereka hanya menjawab kalau semua guru pergi ke kota, sehingga mereka tidak bisa belajar seperti layaknya murid-murid lain di perkotaan. Suatu kesempatan saya melihat seorang guru berjalan ke sekolah dan menuju ruangan kelas. Penulis memutuskan untuk turut serta di dalam kelas dan mengamati sistem belajar yang dipakai oleh guru tersebut, akan tetapi beliau berbalik menganjurkan untuk mengumpulkan anak-anak dari semua kelas di dalam suatu ruangan dan meminta saya untuk mengisi pelajaran di kelas.
Setelah mengisi kelas dengan perkenalan anak-anak dan bernyanyi bersama, saya memutuskan untuk berbincang-bincang dengan kepala sekolah yang kebetulan berada di tempat. Beliau mengeluhkan tentang sikap nakal anak-anak, kemalasan anak-anak untuk datang ke sekolah dan sebagainya. Saya melihat bahwa pihak sekolah berusaha menyalahkan murid-murid yang malas datang, tanpa berusaha merefleksikan sikap dan kemalasan masing-masing sebagai pengajar. Anak-anak di desa Seima adalah anak-anak yang pintar dan cerdas, terlihat saat proses belajar dan bermain di PBA. Antusias mereka sangat besar untuk mengetahui hal-hal baru yang belum pernah mereka ketahui. Tingkat kehadiran mereka di PBA juga sangat tinggi. Semangat mereka yang sangat besar menyadarkan penulis untuk tetap mengandalkan kesabaran dalam menghadapi kenakalan mereka sebagai anak-anak. Anak-anak sebagai generasi yang memiliki kesempatan emas untuk berkembang dan memiliki ilmu yang sebenarnya adalah hak mereka, harus terus didukung dan dibimbing dalam proses perkembangan mereka. Salah satu yang dilakukan oleh organisasi tempat saya bekerja saat itu adalah dengan terus mengaktifkan PBA-PBA di daerah pelayanan. PBA-PBA tersebut sangat berpengaruh dalam perkembangan psikologis dan keilmuan anak.
Hal lain yang sangat mengejutkan bagi saya adalah saat melakukan perbincangan dengan bapak Simson seorang guru di desa Ugem. Beliau mengeluhkan suatu masalah yang sering terjadi dengan anak-anak murid SD di desa Ugem. Banyak anak yang di bawah umur memutuskan untuk menikah dan tidak melanjutkan pendidikannya lagi. Sesuai aturan administrasi di sekolah apabila ada anak yang memutuskan untuk menikah harus membayar denda yang sudah ditentukan dalam peraturan di desa tersebut. Bagi bapak Simson sendiri hal tersebut adalah sutau masalah yang harus diselesaikan bersama, baik mengenai usia anak yang masih terlalu dini ataupun mengenai denda yang harus dibayar sesuai aturan. Permasalahan ini sebenarnya sudah dibahas di dalam masyarakat akan tetapi hasil yang didapat ialah bahwa orangtua menuruti kehendak anak-anak mereka untuk menikah dini. Kontrol yang  baik dan pendidikan seks yang cukup dari orangtua dan guru sangat diperlukan dalam hal ini.
Berbicara mengenai perkembangan anak di dalam masyarakat, harus dilihat juga dari segi kesehatan dan status nutrisi yang didapatkan. Informasi yang diperoleh penulis dari petugas kesehatan, seorang mantri yang bekerja di Polindes Seima menyatakan bahwa penyakit yang sering dialami oleh anak-anak adalah panas dingin, mencret dan diare. Mulai dari mencret biasa hingga mencret yang berdarah. Hal tersebut disebabkan oleh pola hidup masyarakat yang belum menerapkan pola hidup sehat, misalnya mereka sudah terbiasa mengkonsumsi air yang tidak dimasak terlebih dahulu dan sering mengkonsumsi makanan dengan sembarangan. Selain itu juga orang tua tidak menerapkan pola hidup bersih terhadap anak-anak, misalnya dengan mengajarkan mereka untuk mandi teratur dan mencuci tangan dan kaki dengan bersih. Untuk sumber air sendiri, masyarakat di desa Seima termasuk masyarakat yang beruntung karena tidak jauh dari pemukiman penduduk di atas bukit terdapat sumber air bersih yang mengalir dari pegunungan yang dapat dimanfaatkan untuk mandi, memasak dan mencuci. Hanya saja hal tersebut tidak merupakan suatu kelebihan bagi mereka karena pola hidup masyarakat yang malas mandi dan hanya mengandalkan air hujan saja. Mantri tersebut juga menginformasikan bahwa ada kejadian bayi meninggal karena tidak segera dibawa oleh orang tuanya untuk ditangani oleh petugas kesehatan. Sistem imunisasi yang seharusnya wajib dilakukan terhadap bayi yang baru lahir tidak dilakukan dengan teratur karena berbagai alasan, mulai dari petugas kesehatan dari Puskesmas yang tidak rutin datang dan juga para ibu yang malas membawa anak-anak mereka untuk diimunisasi.
Sistem adat yang berlaku dan dianut oleh masyarakat adalah bahwa seseorang yang sakit tidak harus segera diperiksa dan diberi obat, karena dia akan sembuh dengan sendirinya apabila si penderita tidak berada di dalam rumah dalam keadaan sendiri tanpa seorang teman bersamanya. Sehingga suatu hari saya bertemu dengan seorang anak yang sedang berbaring di atas rumput di suatu bukit di desa Seima. Saya melihat anak tersebut pucat dan sepertinya dalam keadaan sakit. Apa yang saya duga ternyata benar, anak tersebut mengalami demam tinggi dan belum mengkonsumsi obat sama sekali. Akhirnya saya mengetahui alasan mengapa anak tersebut berbaring di luar rumah dan memutuskan untuk memberi vitamin, satu buah pisang dan sebotol air untuk dia konsumsi. Pola pikir masyarakat lokal yang terpaut dengan adat sering membatasi langkah mereka untuk melakukan hal-hal yang lebih rasional demi keselamatan dan kesejahteraan mereka.
Hal kedamaian di dalam masyarakat di desa Seima sudah termasuk dalam keadaan damai. Demikian halnya yang saya ketahui dari seorang mantan kepala suku yang menjabat sebagai kepada desa di desa tersebut. Konflik yang pernah terjadi adalah mengenai kerisauan masyarakat dengan kehilangan babi peliharaan mereka, baik yang dicuri, disuntik orang lain ataupun mati terbunuh. Oleh karena babi termasuk harta berharga yang mereka miliki, maka biasanya masyarakat berusaha memecahkan permasalahan tersebut dengan cara merundingkan masalah tersebut dengan para tokoh masyarakat, tokoh adat dan juga tokoh gereja. Kerisauan lain yang dialami oleh masyarakat adalah dengan adanya penyakit terhadap tanaman pertanian mereka, yakni hipere (ubi jalar) dan sayur-sayuran lainnya. Sehingga hasil saat panen juga tidak terlalu memuaskan dan mereka kekurangan makanan pokok untuk keluarga. Berbicara tentang bencana, suatu kabar baik yang saya peroleh bahwa sepanjang sejarahnya di desa Seima tidak pernah terjadi bencana yang merusak hingga saat ini.
Hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk diamati adalah mengenai ekonomi masyarakat. Sesuai dengan hasil perbincangan dengan Bapak Simson, umur 41 tahun, yang bertugas sebagai guru di SDN Mugi dan sekaligus sebagai ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di desa Ugem. KSM di desa Mugi terbentuk tahun 2007 langsung diketuai oleh Bapak Simson. Pertemuan dilakukan satu kali dalam satu bulan yang membahas tentang kegiatan KSM, hasil panen, pemeliharaan babi, pengadaan kandang babi dan membahas tentang penyakitnya, pengadaan pagar keliling untuk memperindah lingkungan. Hasil panen dari desa tersebut pada umumnya hanya Hipere saja karena bibit yang murah. Untuk jenis tanaman yang lain, seperti tomat, jagung dapat tumbuh tapi karena modal yang kurang untuk membeli bibit dengan harga yang mahal. Masalah lain yang dihadapi oleh masyarakat dala pertanian adalah, tanah sudah mulai ada hama sehingga bapak Simson mengungkapkan bahwa mereka membutuhkan obat semprot hama untuk lahan mereka. Saat panen tiba kendala yang selalu dihadapi oleh para petani adalah dalam hal mengangkut hasil panen ke terminal angkutan kota di Kali Yetni. Jarak yang jauh dari Ugem ke terminal harus ditempuh pada pagi hari dan secepat mungkin agar tidak terllu siang tiba di kota. Setiba di kota, petani menjual sendiri hasil panen mereka tidak ditampung oleh pembeli besar, sehingga mereka harus bersabar menunggu hingga barang habis terjual.
Setelah mendapatkan hasil penjualan dari panen mereka, petani segera menyisihkan sebagian dari uang hasil penjualan tersebut untuk ditabung. Tabungan tersebut dapat dimanfaatkan untuk membeli bibit baru ntuk ditanam lagi dan ada juga yang membuat kios kecil di rumah mereka sebagai penghasilan tambahan keluarga. Sistem menabung yang dilakukan masyarakat adalah kesepakatan anggota KSm di desa tersebut. Kesadaran anggota sangat tinggi dalam melakukan persiapan untuk keperluan yang di masa depan dan berguna bagi kestabilan ekonomi keluarga dan kesejahteraan anak-anak mereka.
Usaha lain yang memberikan manfaat besar bagi anggota KSM di desa Ugem adalah dengan adanya honai-honai penginapan yang disewakan khusus untuk para turis yang datang ke daerah tersebut. Honai-honai tersebut disewakan dengan harga Rp.70.000/malam. Informasi yang saya dapatkan saat itu dari buku tamu yang diperlihatkan terhitung ada 20 kelompok turis yang sudah menginap di honai-honai milik KSM dan grup tradisonal di desa tersebut. Hasil sewa honai tersebut akan ditabung sebagai uang bersama kelompok. Selain honai yang disewakan, masyarakat juga diajarkan oleh bapak Simson untuk aktif berpartisipasi apabila ada acara adat tahunan yang biasanya dilakukan setiap bulan agustus. Pada bulan tersebut biasanya grup  tradisional yang dibentuk oleh bapak Simson akan mempersembahkan tari-tarian adat lengkap dengan aksesoris-aksesoris khas Papua. Hal tersebut akan mengundang perhatian para turis yang datang di bulan tersebut dan mereka akan mendapatkan bayaran yang dimasukkan dalam kas grup. Sungguh suatu usaha yang kreatif dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat sebagai anggota kelompok di desa tersebut.
                        *tulisan dibuat satu bulan setelah saya tinggal di desa bersama dengan masyarakat lokal November 2009

Kami Suka Menulis


Tulisan-tulisan berikut adalah merupakan tulisan anak SMA dari beberapa sekolah di kabupaten Jayawijaya Papua. Saya panggil mereka dengan adik-adik. Saat itu diadakan lomba menulis antar anak di seluruh Indonesia oleh kantor organisasi dari Jakarta. Saya sampaikan kepada adik-adik ini bahwa akan ada lomba dan apabila tulisan terpilih sebagai pemenang, adik-adik akan diberi hadiah. Beberapa antusias untuk menulis dengan tema yang sudah ditentukan oleh panitia. Saat itu saya sangat bahagia dan bangga kepada mereka adik-adik peserta lomba menulis yang dengan semangat merangkai kata-kata menjadi satu tulisan yang bermakna. Di balik cerita dan pencitraan yang ada di Indonesia barat, bahwa anak Papua sangat lambat, tidak cerdas dan terbelakang., di sini saya mau menunjukkam bahwa anak Papua adalah anak yang memiliki potensi,  impian dan harapan besar seperti anak-anak lainnya di Indonesia. Selamat membaca J


Sub Tema: Makanan dan gizi seimbang
Sebagai  seorang anak, saya ingin membantu orang tua untuk menanam sayur- sayuran di kebun dengan cara yang efektif dan membersikan lahan agar sayur- sayuran tumbuh subur.  Dengan menanam sayur –sayuran yang banyak kita bisa sehat dan menambah gizi. Saya ingin mengajak orang tua saya untuk menanam sayur-sayuran di kebun agar dapat menambah gizi yang seimbang  dan masyarakat pun bisa sehat dan tidak mudah sakit.
Saya juga ingin meningkatkan kegiatan di kebun agar semua berjalan lancar dan sukses. Saya ingin memberikan yang terbaik kepada orang tua dan masyarakat untuk merawat kebun kita dengan baik. Jjika kita merawat kebun kita pasti  akan aman dan sehat dan bisa membuat lahan yang luas agar dapat menanam sayur-sayuran yang banyak bersama masyarakat. Kita bisa saling membantu dan saling berdamai, antara satu sama yang lain. Dengan demikian kita juga bisa menjual sayur –sayuran di pasar  dengan hasil yang di jual kita membeli bibit sayur- sayuran . dan dengan  hasil  sayur. Sisa uang nya bisa membayar uang sekolah  dan bisa menabung uang di celengan .dengan menabung  uang kita bisa sukses   
                                                                                                         *ditulis oleh Iawe Matuan

  
Sub Tema: Pelayanan di puskesmas dan pelayanan kesehatan lainnya

Aku ingin pelayanan kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir yang berkualitas. Pelayanan kesehatan pertama di posyandu maupun puskesmas. Dengan adanya puskesmas kita harus beruntung karena puskesmas itu untuk menjaga bayi yang baru lahir dan kita harus melakukan dengan baik dan hati-hati.
Di desa saya tersedi pelayanan keamanan persalinan dan nifas oleh petugas kesehatan. Kita harus menjaga kehamilan dengan baik karena bayi di dalam kandungan ibu harus jaga kesehatan dengan sehat. Kalau kita tidak jaga dengan baik atau tidak jaga kesehatan, bayi itu bisa cacat atau bisa meninggal karena mereka tidak menjaga kesehatan pada waktu hamil dan keluarga pun juga harus jaga kesehatan dan sehat. Saya harus jaga kesehatan ibu dan bayi baru lahir dipromosikan sebagai tanggung jawab bersama-sama antara masyarakat dan sistem kesehatan lokal maupun nasional.
Biasanya ibu yang baru melahirkan membawa anak yang baru lahir ke imunisasi yang biasanya dari petugas kesehatan mengunjungi imunisasi supaya bayi baru lahir itu sehat, disuntik, ditimbang. Kalau kita tidak membawa anak bayi yang baru lahir ke imunisasi bisa-bisa anak itu sakit. Biasanya kalau tidak sehat setiap anak yang baru lahir selalu sakit-sakit karena mereka tidak membawa ke imunisasi.
Ketersediaan konseling dan pelayanan keluarga berencana berkualitas sangat diperlukan. Semua kita harus menjaga kesehatan itu penting bagi masyarakat lokal karena kesehatan itu untuk diri kita sendiri. Masyarakat harus sama-sama mendukung kesehatan ibu dan bayi yang baru lahir dan menerapkan sistem pelayanan kesehatan khususnya dengan kesehatan bayi baru lahir itu harus memenuhi nutrisi supaya anak itu sehat dan anak itu juga tidak bisa sakit karena dia mempunyai ibu yang menjaga kesehatannya.
Kita harus melibatkan ibu dalam menunjukkan masalah yang ada dan semua ibu yang melahirkan bayi bisa melaporkan masalah yang ditemukan itu. Ibu bayi harus segera ditolong saat tiba di fasilitas kesehatan. Pengetahuan keterampilan, sikap dan perilaku petugas harus memadai untuk memberikan pelayanan yang berkualitas.
Kehamilan dan bayi yang baru lahir yang berkesinambungan melalui penyuluhan terhadap masyarakat tentang tanda-tanda bahaya pada kehamilan perasaan dan nifas yang berkesinambungan melalui forum masyarakat penyusunan perencanaan. Misalnya perencanaan itu kita harus menjaga kesehatan pada saat hamil karena biasa bayi itu dalam kandungan ibu kalau kita tidak segera periksa bayi bisa meninggal dalam kandungan itu yang berbahaya pada kehamilan ibu.
Peningkatan kualitas pelayanan dan penanggung bayi baru lahir banyak anak bawa sakit karena awalnya mereka tidak bawa ke rumah sakit atau imunisasi. Kita harus membuat perencanaan-perencanaan yang lengkap dan sesuai dengan peraturan yang berlaku. Karena perencanaan itu harus lebih dahulu kita persiapan untuk bayi yang baru lahir. Saya menyiapkan bahan untuk pembayaran dan melakukan kewajiban sampai anak lahir ke dunia.
                                                            *ditulis oleh Helni Asso


Sub Tema: Kegiatan Posyandu
        Jika saya menjadi bupati Jayawijaya  saya akan mengalokasikan dana ke desa untuk pelayanan gizi di POSYANDU dengan cara  program  pokok –pokok pembangunan sebagaimana ditetapkan dalam dana operasional. Rencana strategis pembangunan  di  kampung dan kelurahan meliputi makanan,gizi,pendidikan,kesehatan. Saya mengalokasikan dana untuk masyarakat kampong dan  pengelolahan hutan berkelanjutan peningkatan ,dan aparat distrik kampung,  dalam bentuk makanan dan gizi,peningkatan  kesehatan dan pendidikan masyarakat . Peningkatan dan penyediaan sarana /prasarana kampung atau kelurahan karena kepercayaan penuh yang diberikan kepada masyarakat kampung untuk melaksanakan sendiri berbagai kegiatan yang mereka sepakati bersama. Rasa  bertanggungjawab yang besar dari hasil pekerjaan mereka dan sebagainya.
       Cita-cita saya bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama data - data dasar setiap kampung di Papua bisa tersedia dan dapat diakses kualitas dan ketersediaan makanan kualitas, kesehatan masyarakat.
         Tingkat pelayanan kesehatan dalam hal kualitas pendidikan dan tingkat pendidikan  masyarakat di  kampung perumaan ini harus dilakukan karena ini beberapa bayi dan anak-anak mengalami gizi buruk. Dibutuhkan pemberian makanan tambahan berupa air susu dari ibu yang telah melahirkan bayi dan anak  kurang mengkomsumsi makanan bergizi yang penting bagi kesehatan ibu dan anak .
      Proses pengambilan dana Respek didahului dengan seluruh masyarakat duduk bersama dan memutuskan bahwa dana tersebut akan dipergunakan untuk membuat gedung Posyandu. Masyarakat di kampung benuwan masi sangat membutukan sarana mandi, cuci, kakus, perumahan  yang masih perlu ditata secara baik. Kebersihan kampung diharapkan dapat ditingkatkan dari sekarang dan seterusnya.
Menurut masyarakat setempat bahwa penyakit paling sering derita oleh masyarakat adalah malaria, karena  perumahan yang berada di bahwa pepohonan. Fasilitas kesehatanyan  yang tersedia di kampung adalah Posyandu. Sekarang juga sedang dibangun Posyandu di kampung. Gedung ini kurang lebih 80 sudah selesai. Pembangunan   gedung Posyandu dikerjakan oleh masyarakat kampong.
            Sebagaimana telah dijelaskan pada poin di atas yang mengerjakan program  pembuatan posyandu adalah masyarakat, karena  masyarakat lainnya membutuhkan fasilitas lainnya.  Masyarakat juga sangat membutuhkan petugas kesehatan dari puskesmas, datang                                                                                                                                                                                                                                                         pelayanan ke kampung sesuai dengan jadwal secara teratur.
*Ditulis oleh Frengki Asso

Sub Tema: Kondisi lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat yang bersih dan sehat

Saya melihat bahwa dulunya itu lingkungsn rumah saya kotor buang sampah tidak pada tempatnya, dan jalan –jalan kecil penuh dengan rumput, becek dan buang luda pinang.puntun rokok sembarang.
Aku ingin lingkungan rumah saya harus bersih dan sehat.dan membuang sampah luda pinang,puntun rokok,pada tempat,sehingga lingkungan rumah saya terlihat indah dan berish ketika dilihat orang yang ada di sekitar lingkunaganku.
Sejak saya masuk swekolah di bangku SMA Negeri 1 Wamena, kondisi halaman sekolah yang saya lihat sejak kepala sekolah lama lingkungan sekolah sangat kotor tidak ada tata tertib,tidak punya disiplin waktu.tidak belajar dengan baik,dan membuang sampah tidak pada tempatnya.
Aku ingin sekolah saya menjadi sekolah yang unggul dan bersih dari sekolah-sekolah lain ada di sekota Wamena, sehingga selama ini yang saya pikirkan dan doakan tetapi Tuhan sudah kabulkan apa yang selama ini saya cita-citakan ada akahirnya ada pergantiaan kepala sekolah baru  yang bisa mengubah semua tata tertib yang selama ini tidak aktif.sehingga sekarang sekolah saya menjadi bersih dan belajar dngan tertib dan buang sampah pada tempatnaya.sudah ada disiplin waktu yang baik.
Saya melihat bahwa masalah yang terjadi di masyarakat atau didesa saya yaitu desa Hitugi kabupaten Yahukimo,dulunya masyarakat hidup tergantung kepada kepala kampong /kepala desa itu sendiri kegiatan yang dilaksakan semata-mata kerja dengan suatu unsur paksaan dan tidak ada kekompakan pada masyarakat satempat dan halaman tidak bersih,dan jembatan-jembatan kecil banyak yang rusak. Masyrakat sibuk dengan pekerjaan sendiri seperti tani yaitu kerja kebun setiap hari.keluarga bisa hidup baik.
Aku ingin perimerintah memberikan pemahaman yang baik.atau sosialisai tentang kerja sama yang baik /gotong royong sehingga ada kekompakan.kepada setiap kepala-kepala kampung,agar mereka mengerakkan kepada masyrakat tetapi akhirnya impian saya terwujud juga melalui pemerinta lewat Dana Respek sehingga sekarang mayarakat dikampung saya sudah semakin semangat karena adanya dana respek membawa dampak yang positif ,yaitu dalam hal pembangun rumah,jalan-jalan raya  air bersih,membantu ekonomi lemah, biaya pendidikan bagi anak-anak sekolah yang sudah studi akhir.maka semakin semangat masyarakat untuk kerja sama yang baik dan menjaga kebersihan lingkungan secara bersama-sama agar dari desa-desa lain bisa melihat contoh dari kampung saya.itulah impian saya saya sebagai anak belajar SMU Negeri Kelas 1 apabilah terjadi kesalahan dalam lombah menulis ini dengan setiap kalimat saya mohon maaf
*ditulis oleh Merlina Sekenyap

Sub Tema: Kondisi lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat yang bersih dan sehat
Puji dan syukur kepada Tuhan oleh karena anugerah Tuhan, sehingga penulis sanggup menyusun kata-kata dengan baik.                                                  
         Kondisi lingkungan rumah aku banyak sekali  pohon –pohon , buah –buahan  dan juga  aku  senang  sekali  makan  hipere  dengan  daun  hipere. Aku  tidak  pernah  makan  makanan yang  sehat  seperti 4  sehat  dan  5  sempurna. Kondisi di kampungku sekarang   masyarakat  tidak  menjaga   lingkungan  akhirnya  di kampungku  selalu  longsor  terus, masyarakat tidak  bisa  menyebrang  ke sebelah  karena  longsor  parah.
Jadi jika aku menjadi Bupatiatau DPR aku akan melihat kondisi/keadaan di kampungku karena di kampungku selalu makan hipere dengan daun hipere saja. Aku akan membantu beras setiap bulan dengan demikian juga aku akan membuat jembatan panjang supaya masyarakat semuanya bebas ke sana kemari dan juga kondisi masyrakat sehat dan bersih.
Terimakasih atas perhatiannya kiranya Tuhan , amin.
*ditulis oleh Orina Siep

Sub Tema: Kondisi lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat yang bersih dan sehat

Jika saya menjadi kepala keluarga saya ingin membuat atau membangun salah satu rumah untuk tinggal dengan keluarga saya. Dan saya ingin kondisi lingkungan rumah bersih maka kelak kita-kiat yang saya lakukan untuk memeliharanya adalah:
-        Menyapu dalam rumah maupun di halaman setiap hari
-        Mengepel lantai setiap hari
-        Membuang sampah pada tempatnya
-        Mencuci alat-alat dapur harus memakai air sabun
-        Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
-        Dan lain-lain
Adapun akibatnya jika saya tidak memperhatikan kondisi lingkungan di rumah saya adalah:
-        Hidup tidak sehat
-        Keadaan dalam rumah maupun halamannya terlihat kotor
-        Dapat menyebabkan berbagai penyakit
-        Orang-orang tidak senang mengunjunginya
-        Binatang-binatang yang saya pelihara tidak sehat
-        Oksigen (O2) yang kita hirup berbau
-        Dan lain-lain
Itulah harapan saya yang saat ini saya pikirkan untuk masa depan saya. Dan hal-hal tersebut sudah menjadi suatu tekad yang kuat dan buat untuk melakukannya.
Akhirnya saya sebagai anak bangsa yang punya masa depan yang cerah, saya akan mengisi kemerdekaan ini dengan dimulai dari diri saya, keluarga saya dan di masyarakat maka akan tercipta negara yang bersih, indah, nyaman, damai, aman dan sejahtera. Biarlah dunia tahu bahwa bangsaku bukan manusianya saja yang beradab, akan tetapi negaraku juga kaya akan budaya dan kaya akan keindahan alamnya.                                                                                                                                        
Maka saya panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan yang Esa karena atas anugerahnya saya dapat hidup di bumi ini.
*ditulis oleh Ronny Wamu

Sub Tema: Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi
Waktu dulu orang tua kami di kampung itu salah menyusui anak. Salahnya adalah bayi yang baru dilahirkan, ibunya tidak menyusui bayi dengan air susu yang keluar pertama kali. Mereka bilang air susu yang pertama itu kotor dan juga sebenarnya bayi itu makan harus di atas 6 bulan tetapi orang tua kami juga kasih makan bayi di bawah 6 bulan akhirnya anak tidak sehat dan selalu sakit-sakitan.
Kalau Tuhan kehendaki atau suatu saat saya menjadi orang yang berguna atau menteri, saya ingin ajari orang tua atau teman yang belum tau tentang memberikan Air Susu Ibu yang benar, supaya kami punya orang tua atau masyarakat di kampung boleh menyusui anak dengan baik dan anak itu bertumbuh dengan baik dan sehat dari kecil sampai dewasanya.
Tapi kalau saya menjadi seorang ibu dan akan punya anak atau bayi, saya ingin menyusui bayi dengan baik supaya bertumbuh atau besar dengan sehat-sehat. Saya ingin memberikan makanan di atas 6 bulan kalau di bawah 6 bulan itu salah memberikan makanan. Jadi saya ingin punya anak sehat-sehat, tidak mau kalau anak saya sakit terus. Saya juga ingin memberikan Air Susu ibu (ASI) yang benar dan memberikan makanan yang benar kepada anak atau bayi saya. Akhir kata Tuhan memberkati.

*ditulis oleh Sunem Siep
Sub Tema: Kegiatan Posyandu

Masyarakat saya tidak sehat karena pengaruh lingkungan dan tidak memakan makanan dengan gizi, ibu, anak, dan bayi selalu makan ubi sehingga tidak sehat dan perkembangannya semakin lambat.
Kalau saya selesai sekolah cita-cita saya harus menjadi camat untuk masa depan. Jika saya menjadi camat, saya akan mengalokasikan dana camat untuk pelayanan
Gizi  Ibu, Anak, dan bay. Sekarang kesehatan ibu, anak, dan bayi sangat kurang dan tidak sehat, karena pengaruh lingkungan dan selalu makan petatas tidak makan makanan campuran. Inilah ibu, anak, dan bayi generasi penerus, maka saya sebagai camat saya akan mengalokasikan dana camat untuk pelayanan gizi ibu, anak dan bayi. Dalam satu bulan empat kali mengalokasikan dana untuk pelayanan gizi. Sekian dan terimakasih.
   
*ditulis oleh Perkelaus Siep


Sub Tema: Kondisi lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat yang bersih dan sehat

        Jikalau saya jadi bupati saya akan melakukan tugas  dan tangung jawab   saya  dengan baik supaya masyarakat senang. Saya juga harus membuktikan bawa ilmu yang saya terima dari bapak ibu guru ingin saya buktikan pada saat saya jadi bupati kabupaten Jayawijaya supaya masyarakat dapat puas dan dapat mengerti. Saya akan melakukan pembangunan lebih aktif dan baik supaya kabupaten-kabupaten lain bisa menilai bahwa kota ini memang luar biasa dan mereka juga bisa membawa pulang kesaksian kami dengan baik dan benar.
       Contoh nyata yang ingin saya lakukan pendidikan gratis, beras otsus dijalankan, rumah sakit gratis, desa-desa diaktifkan dan lain lain. Itulah yang saya simpan untuk membuktikan pada saat saya jadi bupati kabupaten Jayawijaya dan saya janji kalau Tuhan kehendaki saya jadi bupati saya akan turuti apa ang di susun di kertas yang sederhana ini. Terimakasih semoga penyampaian saya ini dapat berhasil dan Tuhan Yesus memberkati kita semua Amin.
*ditulis oleh Serianus Lokobal

SUB TEMA:  Kegiatan posyandu

Jika saya menjadi bupati saya akan mengalokasikan dana bupati untuk pelayanan gizi di posyandu dengan cara menjalankan yang evektif dan sesuai dengan keinginan ibu dan anak di Indonesia, melayani imunisasi di posyandu secara geratis, melayani imunisasi dua kali dalam sebulan . Jika seorang ibu dan anak sakit bisa pergi pada saat Imunisasi di posyandu supaya kesehatan ibu dan anak sehat.
Dan bisa melaksenakan aktifitas ibu dan anak, maka seorang anak tersebut bisa sekolah dengan baik,
Dan seorang ibu tersebut bisa mencari jalan keluar membiayai anaknya.
Jika saya menjadi bupati tidak menjalankan imunisasi secara geratis. Kehidupan ibu dan anak tersebut kesehatan akan kurang bagus
Jika saya menjadi bupati menjalankan imunisasi secara gratis supaya  ibu dan anak juga sehat .
*ditulis oleh Verix Hisage