Sunday, 29 May 2016

Buku adalah penyejuk jiwaku


Sudahkah anda membuka buku hari ini?Berapa lama anda bertahan membaca atau melihatnya?Apa perasaan yang muncul setelah anda menutup halaman buku tersebut?
Buku tidak hanya sekedar kertas yang ditumpuk, dilem, ditempel menjadi satu, juga tidak hanya benda persegi panjang yang dipenuhi oleh tinta hitam, gambar berwarna warni dengan penuh imaji. Buku adalah wujud dari segala imajinasi, impian, cita-cita, harapan, pengalaman, kehidupan, sejarah dan berbagai unsur lain dalam hati penciptanya yang dituangkan dengan segala cinta, rasa, kasih, harapan, sukacita, emosi yang dimilikinya. Pembaca adalah subjek yang berhak bersyukur atas segala persembahan itu. Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan membiasakan membaca buku paling tidak satu halaman per hari. Bacalah buku yang mempresentasikan kehidupan sehari-harimu. Buku yang memuaskan jiwa dan ragamu. Buku yang membuatmu tersenyum saat tersenyum itu adalah hal yang paling sulit kamu lakukan saat ini. Mungkin juga buku yang membuatmu menangis saat hatimu semakin tertutup rapat akan masalah kemanusiaan saat ini. Yah, paling tidak tubuhmu masih bereaksi setelah membaca salah satu halamannya. 
Kenapa sih aku terkesan menggurui, memaksa, menghakimi, menasihati atau mungkin menghina lewat kalimat-kalimat di atas? Siapalah aku ini yang memaksamu untuk melakukan hal yang mungkin kamu tidak suka?Aku hanyalah seorang perempuan biasa yang berhati keras melawan ketidakadilan namun lembut bagi persoalan kemanusiaan. Aku hanyalah perempuan yang terlahir dalam lingkup kemiskinan namun kaya akan harapan untuk maju. Aku terlahir di tepi danau toba tepatnya di desa Bage, Sumatera Utara yang kini hidup di tepi danau Jenewa, Swiss. 
Sejak pindah ke negara ini aku menjadi semakin gregetan karena setiap hari melihat di angkutan umum, orang-orang menyempatkan membaca buku kecilnya (Oh ya di sini ada istilah buku kantong karena ukurannya lebih kecil dari buku biasa). Perpustakaan negara, provinsi, kampus, anak semuanya memperbolehkan masyarakat menjadi anggota secara gratis. Artinya gratis meminjam buku bahkan hingga jumlah 30 buku sekali pinjam dalam jangka satu bulan dan setelah itu kamu bisa perpanjang lagi hingga dua kali dari masa peminjaman berakhir. Apa ini tidak menyenangkan? Mungkin tidak bagi orang yang belum bisa berbahasa perancis, namun tidak jarang juga buku berbahasa inggris ditemukan di perpustakaan umum di sini. Tidak hanya untuk orang dewasa yang sudah bisa membaca, perpustakaan di negara ini juga ramah bagi anak-anak dari usia dini hingga anak-anak remaja. Segala jenis buku bisa kamu temukan di sepanjang rak dan lorong perpustakaan.
Dari pengamatan saya sehari-hari selama bekerja di PAUD, keinginan setiap anak untuk membaca buku sejak bayi sebenarnya sudah ada. Terbukti dengan bayi yang berusia 5 bulan sudah bisa dengan bahagia meremas-remas buku yang terbuat dari plastik dan kain, sembari mengisap-isap ujungnya. Anak usia 12 bulan sudah dengan mandiri memilih buku dan membuka lembarannya yang terkadang merobeknya tanpa rasa bersalah. Apakah kita harus memisahkan mereka?Solusinya bisa dengan menasihati si anak agar menjada buku dengan baik, walaupun nasihat ini tidak cukup sekali ucap saja. Anak usia 24 bulan akan dengan sadar meminta kita membacakan buku yang ingin dia baca, karena rasa keingintahuan akan isi cerita sebenarnya. Dan keesokan harinya dia akan membaca sendiri buku tersebut dengan modal cerita kemarin yang sudah dia dengar. Begitulah hingga anak di usia remaja mereka masih membutuhkan buku karena kebutuhan ini sudah tertanam dalam diri mereka sejak bayi. Bahkan hingga di masa tua mereka masih membaca buku sebagai pengobat jiwa yang sunyi.
Aku teringat akan masa kecilku, saat masih SD aku sudah candu dengan buku. Setiap hari aku harus membaca, seperti kebutuhan yang harus terpenuhi. Saat itu ibuku adalah guru SD di kampungku, kebetulan hanya itu sekolah yang ada di sana. Perpustakaan sekolah hanya bisa diakses oleh guru, tidak satupun murid yang bisa masuk dengan alasan supaya buku tidak hilang atau dibawa pulang. Rasanya sedih bukan, saat keinginanmu tidak terpenuhi?Mungkin kayak pengen pipis tapi ga boleh ntar wc bau amis. ah sudahlahh...Intinya kami tidak pernah masuk ke perpustakaan dengan status sebagai murid, namun karena aku adalah anak guru maka aku memanfaatkan status ini. Aku minta ke ibuku untuk membawakan buku-buku cerita dari sekolah ke rumah kami, aku dan kakakku Lusi melahap semua buku-buku cerita itu hingga berulang-ulang. Cerita yang paling melekat di ingatanku hingga saat ini adalah cerita tentang keluarga tapir di hutan. Jiwaku merasa kenyang setelah membaca buku-buku cerita hasil nepotismeku. Aku menghalalan segala cara untuk memenuhi kebutuhan jiwaku. Namun kusadari jika aku tidak suka membaca sejak kecil, aku tidak akan pernah menginjakkan kakiku di kampus filsafat UGM yang keren itu, ceilehhh. Aku mungkin tidak akan pernah menginjakkan kakiku di pulau Papua yang luar biasa indahnya itu. Mungkin juga aku tidak akan pernah berada di tepi danau Jenewa, Swiss yang menawan ini. Ya buku menghantarkanku mengelilingi dunia, kemana aku ingin pergi. Buku adalah sahabat jiwaku, seperti halnya pak Rosseau tulis dalam bukunya ini. Tidak peduli siapa kamu, berapa hartamu, asal kamu bisa menyisihan waktu sedikit saja sehari menggulir bola matamu mengiringi tinta hitam di lembaaran putih itu, kamu akan bisa terbang keliling dunia. 
Aku berharap kita bisa berjumpa di persimpangan antar benua dan bercerita akan buku masa kecil kita.

                              

Tuesday, 2 February 2016

Musim dingin ke empat, aku terjerat oleh penyakit lokal

Bulan Februari 2013, pertama kalinya aku mengunjungi kota Lausanne, negara Swiss. Saat itu bertepatan dengan musim dingin dengan jumlah salju yang lumayan tebal. Pertama kalinya juga dalam hidupku, aku melihat dan menyentuh salju yang sebelumnya hanya ada dalam bayangan semata. Bagiku, pengalaman itu adalah suatu hal yang menyenangkan dan sedikit konyol, saat Patrick menjemputku di bandara, di perjalanan menuju ke rumah orangtuanya, saya minta turun untuk menyentuh salju dan merasakan bagaimana dinginnya. Dingin memang tapi seru!! Sepanjang kunjungan saya selama dua bulan, kamipun melakukan banyak kegiatan seperti pergi ke gunung bermain ski, mendaki gunung bersalju dengan menggunakan sepatu raquette, mengunjungi kota-kota lain saat salju turun dan berada di luar dengan suhu hingga -9 derajat. Aku memang merasa kedinginan namun karena semua adalah baru bagiku, aku menikmati dengan antusias, sama sekali tidak merasakan kesusahan ataupun jatuh sakit seperti halnya banyak orang di sini, pasti terserang penyakit musim dingin seperti flu, batuk, sakit kepala, meriang dll. 
Musim dingin ke dua adalah bulan Desember 2013, kulewati dengan baik-baik saja. Tanpa terserang penyakit musim dingin sama sekali. Di musim ini juga kami melakukan olahraga ski ke gunung dan aku mengalami kecelakaan, akhirnya aku simpulkan bahwa olahraga ski bukanlah untukku. Kami tidak jodoh untuk saling dekat :P. Demikian halnya musim dingin ke tiga bulan Desember 2014, aku masih merasa baik-baik saja. Aku mulai tidak menyukai berada di luar dengan suhu udara dingin, dengan sepatu dan pakaian yang tebal dan berat. Aku mulai merasa sesak saat berjalan. Merasa tidak nyaman saat harus selalu memasukkan jari-jari ke dalam saku jaket. Sering menggerutu saat harus berada di luar namun bahagia ketika salju turun karena suasana menjadi indah. Aku menolak saat diajak ke gunung untuk bermain ski, karena sudah memutuskan hubungan dengannya tahun lalu. Akhinya kami hanya bermain seluncuran di bukit bersalju yang lokasinya tidak jauh dari kota tempat kami tinggal, itupun dengan syarat ketika matahari cerah aku akan mau pergi.
Kini tiba musim dingin ke empat dalam hidupku. Aku menjadi seperti orang lokal, yang sakit di awal pergantian musim gugur dan dingin. Bukan Desember 2015 lalu, aku mengalami batuk parah yang juga pertama kali dalam hidupku. Batuk kering yang bertahan selama hampir tiga minggu. Aku merasakan tulang-tulang dada dan punggungku sakit karena batuk yang kualami. Obat yang kuminum sepertinya tidak mempan hingga akhirnya aku melakukan cara kampung yaitu dengan memeras jeruk nipis dan mencampur airnya dengan madu. Aku lakukan itu setiap hari dengan harapan batuk kering berubah menjadi dahak. Tidur tidak pernah lelap karena tenggorokan yang gatal dan kering sangat mengganggu. Tepat menjelang natal, aku merasa sembuh. Syukur sekali penderitaan itu berakhir!!!
Tahun baru dimulai, salju tahun ini tidak seperti tahun lalu. Banyak yang mengatakan karena pemanasan global dunia, akupun mengiyakan. Musim dingin sepertinya belum dimulai, eh bunga-bunga sudah pada bersemi. Musim dingin tahun ini matahari sering menyapa. Bukan berarti pertanda baik juga bagi kesehatan, bakteri merajalela. Tepat awal tahun ini, aku memulai pekerjaan tetapku sebagai pendidik di PAUD, dan kesehatan anak sangat berpengaruh kepada pendidik juga. Tahun ini hampir setiap hari anak-anak datang ke PAUD dengan ingus yang meleler, mata yang sendu dan berair karena flu, suhu tubuh yang hangat karena demam. Dengan semua godaan-godaan ini, akupun terjerumus di dalamnya. Tepat jumat minggu lalu, sepulang kerja, aku merasakan sakit di kepala, mata mulai perih dan hidup mulai mampet. Langsung minum obat dan minum air putih yang banyak, istirahat cukup sepanjang akhir pekan, tetap saja hingga 4 hari sakit kepala dan flu ini masih betah bersarang di tubuhku. Ya, adaptasiku berjalan dengan baik, adaptasi dengan penyakit lokal yang selama 3 kali musim dingin tidak pernah menyapaku, kali ini aku terjerat!Jadi kesimpulannya, aku berhasil beradaptasi selama 2,5 tahun di negara ini, adaptasi dengan makanan, lingkungan sosial, bahasa, cuaca dan penyakit musiman. Aku bangga dengan diriku sendiri tapi menderita dengan sakit kepala ini :(

Kutulis dalam keadaan sakit kepala, mata perih, hidung mampet 
dan berbaring di sofa sepulang kerja siang ini
Lausanne, 02-02-2016

Wednesday, 16 December 2015

Menapak tilas 2,5 tahun di Wamena, Papua


Saya akan menapak tilas kerja kemanusiaan yang saya lakukan di pulau Papua saat bergabung dengan organisasi Wahana Visi Indonesia. Pekerjaan ini berfokus pada perlindungan anak. Bagi saya, ini merupakan satu mimpi lama yang selalu tersimpan dalam pikiran, saya ingin menginjakkan kaki di pulau Papua. Pada tahun 2009, saya berhasil lulus dalam tes ujian masuk bekerja dengan World Vision Indonesia (WVI). Organisasi ini adalah organisasi non-pemerintah dan berfokus pada pekerjaan kemanusiaan. Saat itu WVI memiliki 43 area pelayanan yang tersebar di seluruh Indonesia. Bulan November 2009 saya ditempatkan di kota Wamena dengan area pelayanan kerja Kurima. Kota Wamena berada di pegunungan tengah Papua, tepat di lembah Baliem. Kota ini hanya bisa diakses dengan menggunakan pesawat dari kota Jayapura karena luasnya pegunungan dan hutan yang terbentang di antara ke dua kota. Kota Wamena juga dikelilingi oleh bukit-bukit dimana kita bisa menemukan banyak desa-desa kecil dengan suku-suku tradisionalnya. Area pelayanan kerja saya merupakan daerah yang terpencil dan sulit untuk diakses. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang sudah saya impikan sejak lama, di daerah yang jauh dari modernitas, bekerja dengan orang lokal, berfokus pada perkembangan anak-anak dan permasalahan perempuan.
Visi dari organisasi WVI adalah « Visi kami untuk setiap anak, hidup utuh sepenuhnya, doa kami untuk setiap hati, tekad untuk mewujudkannya » yang berarti segala kegiatan yang ada dalam proyek organisasi akan selalu berfokus terhadap kesejahteraan hidup anak dan kami bisa mewujudkan pekerjaan itu dengan bantuan yang diberikan oleh para donatur di seluruh dunia. Semua kegiatan harus berfokus pada penghargaan atas hak-hak anak yaitu hak hidup, hak tumbuh kembang, hak perlindungan dan hak partisipasi. Anak yang kami dukung dan menjadi fokus pelayanan ini berumur 0 sampai 18 tahun.
Saya mulai bekerja sebagai Koordinator Pengembangan Masyarakat di beberapa desa. Proyek yang saya tangani adalah proyek pendidikan, proyek nutrisi dan kesehatan reproduksi. Tugas-tugas saya saat itu adalah memfasilitasi pelatihan terhadap  para tutor/ pengajar anak usia dini di beberapa pusat belajar anak dampingan WVI, bekerja sama dengan para guru SD dengan memfasilitasi mereka mengikuti pelatihan cara mengajar yang disesuaikan dengan kebutuhan murid-murid, memfasilitasi puskesmas dengan memberikan pelatihan terhadap para bidan, mantri dan kader kesehatan, mengorganisir pelatihan tentang nutrisi, mengajar dan meningkatkan kesadaran anak-anak remaja mengenai kesehatan reproduksi, HIV&AIDS. Saya juga memiliki kesempatan untuk mengikuti berbagai pelatihan di berbagai kota yang berhubungan dengan peningkatan kinerja.                             

Selama menjalani pekerjaan sebagai agen perubahan di daerah ini, saya sering menemukan berbagai kesulitan. Contohnya, akses menuju desa-desa tidaklah gampang. Saya dan tim harus melewati jalanan yang berlubang. Jalur yang sering terpotong karena adanya longsor atau dipenuhi lumpur. Terkadang harus menyeberang sungai dengan kondisi jembatan rusak atau hanyut. Selanjutnya harus berjalan kaki dan mendaki untuk tiba di desa-desa terpencil dengan rumah yang jaraknya jauh satu dengan dengan yang lain.  Kadang kala ketika tiba di tempat yang dituju, kegiatan harus dibatalkan karena peserta yang sudah diundang tidak hadir dengan alasan pergi menghadiri pesta di desa. Beberapa orang di desa menolak kehadiran kami karena kami tidak membawa sesuatu yang bisa dibagi dengan cuma-cuma kepada meraka (biasanya mereka mengharapkan barang atau uang). Lain lagi masalah perang suku yang sering muncul menjadi hal buruk terhadap keamanan saya dan tim.


Walaupun begitu, jauh di lubuk hati saya, hal yang paling menggetarkan bagi saya adalah ikatan yang tercipta antara saya, orang lokal, anak-anak dan alam, dan ikatan ini semakin hari semakin dalam. Anak-anak selalu berteriak «kakak Fatmaaaaa » setiap kali mereka melihat saya tiba di desa, atau orang-orang lokal akan menyapa dan menyalami saya setiap kali kami berpapasan di jalan. Kehangatan penduduk di daerah ini mengajarkan saya untuk bersyukur dan berbagi dengan orang lain. Senyuman di wajah mereka selalu membuat saya bahagia. Akhirnya, melalui pekerjaan ini, saya berguna bagi orang lain.
           
           

Monday, 14 December 2015

Buku puisi (Anti)Paspor

Buku kecil yang satu ini memiliki bentuk yang sama dengan paspor asli, bahkan warna halamannya juga dipilih sesuai dengan warna-warna paspor di seluruh dunia. Namun saat anda membukanya, anda tidak akan menemukan bekas cap atau stempel petugas imigrasi di setiap halamannya. Lho kenapa begitu? Bukannya paspor biasanya dihiasi dengan visa, cap atau stempel dari petugas imigrasi negara-negara yang kita kunjungi? Jangan salah, paspor satu ini justru adalah anti visa, anti cap atau stempel. Sebaliknya anda akan menemukan teriakan kebebasan di dalamnya. Anda akan dibawa terbang menuju negara yang ingin anda kunjungi tanpa harus mengurusi tetek bengek birokrasi keimigrasian. Dengan rangkaian indah syair penulisnya, anda akan terbuai dalam gelombang indah laut mediterania bukan dengan status pengungsi perang, namun sebaliknya sebagai manusia merdeka yang bebas menyeberang kemana saja anda mau.
Buku kecil ini adalah puisi kemanusiaan penyairnya, Antoine Cassar. Dia adalah seorang penyair keturunan Malta yang besar di London, pernah tinggal lama di Luxemburg dan saat ini dia kembali ke kampung halamannza di Malta. Setelah sebelumnya berhasil diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa, puisi ini saya terjemahkan dari bahasa Inggris dan Perancis ke dalam bahasa Indonesia, sehingga pesan kemanusiaan yang kuat di dalamnya bisa terbang dan di dinikmati oleh pecinta puisi dan sastra di Indonesia. Anda bisa mengakses http://passaportproject.org/ dan bisa memesan puisi Paspor ini dengan pilihan warna halaman kesukaan anda. Keuntungan dari penjualan buku ini akan didonasikan kepada organisasi lokal di Jakarta yang mendukung para pengungsi dan pencari suaka.
Buku kecil ini sudah dipresentasikan dan dibacakan pada akhir bulan Oktober 2015 dalam acara Ubud Writer Festival di Bali. Buku kecil ini cocok untuk anda para pecinta puisi dan sastra, para perantau dan petualang yang sering dihadapkan dengan masalah pengurusan visa dan paspor, dan para pecinta kemanusiaan. Selamat membaca :)

Sunday, 29 November 2015

Dilema tes intoleransi laktosa

Sekitar dua minggu yang lalu (sesuai dengan rujukan atas hasil pemeriksaan dari dokter keluarga kami), saya pergi ke laboratorium untuk melakukan pemeriksaan intoleransi laktosa dalam tubuh saya. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kondisi atau kadar enzim yang bertugas untuk mencerna laktosa dalam tubuh. Sebenarnya saya juga baru mendengar istilah ini semenjak tinggal di Swiss. Hanya saja karena selama dua tahun lebih tinggal di negara ini, saya sering mengalami diare setelah minum susu sapi. Beberapa anggota keluarga menganjurkan untuk melakukan tes ini. Mereka menjelaskan juga bahwa memang kebanyakan orang asia yang hijrah ke Eropa mengalami permasalahan ini karena dalam tubuh orang Asia tidak terdapat cukup enzim untuk mencerna laktosa. Alasannya jelas karena orang Asia tidak terbiasa dengan minum susu sapi cair, atau menggunakan susu sapi cair dalam beberapa produk makanan.
Tes dimulai pada pukul 8:00 pagi, dimana saya dipertemukan dengan seorang perawat di salah satu ruangan. Dia menjelaskan bahwa tes yang akan kami lakukan gampang, hanya menghembuskan nafas ke dalam tujuh  tabung plastik dengan batas  waktu tertentu setiap tabungnya, dan keseluruhan proses akan berlangsung selama tiga jam. Hembusan nafas pertamapun diambil. Perawat menutup tabung dengan erat, kemudian mengantarnya ke ruangan sebelah. Sekembalinya dia mengatakan bahwa saya akan minum  teh yang sudah dicampur dengan bubuk susu. Dalam hati saya tersenyum, bagus deh saya haus sekali melebihi haus unta di padang gurun :P (Oh ya, sebelumnya saya harus berpuasa semenjak bangun tidur pagi ini, tanpa minum atau makan apapun. Jelaslah perut saya kosong dan cekung).  Teh susupun saya teguk dengan tuntas. Lalu dia meminta saya menghembuskan nafas ke duakalinya. Setelah itu saya diminta untuk menunggu di ruang tunggu, dan mengatakan bahwa dia akan datang kepada saya untuk mengisi nafas dalam tabung.
Sambil menunggu di sofa yang nyaman dan empuk, saya mengisi waktu dengan membaca buku yang baru saya pinjam dari salah satu organisasi perempuan di kota ini. Sesekali saya memperhatikan petugas laboratorium dan para pasien yang akan melakukan tes,  lalu lalang di hadapan saya. Lima menit berlalu, saya mendengar suara gemuruh dari kedalaman perut cekung saya. Apa ini?Tolong jangan sekarang!Semakin saya ingin lupakan, namun gemuruh itu berubah menjadi sakit yang membelit usus-usus saya. Saya tahan untuk tidak meringis, karena malu dilihat oleh anak yang sedang duduk tepat di hadapan saya. Bertarung menahan rasa sakit, saya harus tunggu perawat hingga batas lima belas menit yang ditentukan untuk mengambil hembusan nafas baru. Oh dia datang, dengan sigap saya hembuskan nafas dan bergegas ke wc. Bretttttttttt…..busetttt derasnya seperti tekanan air keran. Rasa sakit di perut bukannya berkurang namun tetap menggerogoti hingga ke ulu hati. Setelah merasa puas mengeluarkan cairan itu, saya kembali ke sofa. Si perawat menanyakan keadaan saya, dan saya katakan saya sakit perut dan buang air sangat cair. Sepertinya dia tidak merasa bersalah sudah memberikan saya teh susu sebagai penyebab semua ini, dia hanya menimpali bahwa itu wajar karena saya memang intoleransi dengan laktosa. Dia menyarankan saya untuk minum air putih yang sudah tersedia di ruang tunggu. Karena memang haus sekali, saya minum hingga dua gelas. Saat itu saya membayangkan berada di meja makan dapur rumah kami dan menyantap sarapan roti dan selai serikaya sisa oleh-oleh saya musim panas lalu. Oh ternyata masih pukul sembilan pagi. Saya harus menunggu dua jam lagi.
Sepertinya dua gelas air putih sedang bercumbu dengan teh susu di dalam usus-usus saya, hasil percumbuan mereka tidak membawa kebahagiaan buat tubuh saya. Rasa sakit baru muncul, lebih sakit dari sebelumnya. Saya tidak ingin menebak-nebak, langsung saya ambil langkah sepuluh ke wc untuk kedua kalinya (karena wcnya emang ga jauh dari ruang tamu). Brottttttt…brottttttt…brotttttt kali ini derasnya melebihi tekanan air pancuran di permandian umum kampung saya di tepi danau Toba. Untungnya kali ini alirannnya tidak mengalir langsung ke danau Toba ya :P. Saya meringis kesakitan, karena sepertinya perut saya sudah kosong melempem seperti kerupuk jange yang ga laku-laku dan terjebak dalam kaleng kerupuk di meja warung pojok karang gayam Jogja. SAKIT tapi PUAS itulah perasaan saya setelah keluar dari wc. Aduh si perawat mana nih? Saya lihat dia sedang berbicara dengan ibu lain yang berjaga di meja resepsionis, sambil bersiap-siap mengenakan jaket tebalnya dengan hp dan rokok di tangan. Yang saya tau dia mau izin keluar sebentar, yang saya ngga tau mungkin dia merasa bersalah dan butuh waktu untuk menyesali perbuatannya karena membuat saya bolak-balik masuk wc akibat teh susu pemberiannya (geer banget deh!). Si ibu yang merangkap resepsionispun mendekati saya, dengan mata sayu dan wajah minta dikasihani,  saya isi tabung plastik itu dengan nafas loyo setengah mampus.
Pukul 10:00 menjelang siang, sudah lima tabung plastik terisi. Sesekali saya melirik galon air di sebelah kanan saya, ragu apakah saya minum atau tidak. (gampang banget deh trauma). Hingga si perawat yang sudah kembali bertugas datang membawa tabung plastik yang ke enam dan mengatakan akan ada satu tabung lagi dan segera selesai. Ohhhh, kalau tau begini sepertinya saya tidak perlu jujur-jujur banget masalah diare ke dokter keluarga saya. Kenapa tidak saya berhenti saja mengkonsumsi susu sapi dan masalah diare tidak akan berlanjut dengan drama pemeriksaan ini.Ok, tabung plastik ke tujuh datang dan perawat mempersilakan saya pulang dan mengatakan hasil tes akan dikirim kepada dokter keluarga kami. Dengan senang hati saya permisi dan secepat mungkin merogoh tas saya. Ya, saya memang sudah mempersiapkan buah pisang dan jeruk untuk disantap setelah tes selesai. Penderitaan tidak berhenti setelah saya kembali di rumah. Setelah makan siang, sakit di perut masih berlanjut. Namun pukul 13:45 saya harus bekerja menggantikan guru yang sakit di sekolah PAUD Universitas Lausanne. Dengan semangat yang patah-patah sayapun berhasil bekerja siang itu. Terlebih saat bertemu dan berinteraksi dengan anak-anak itu, semangat saya tidak pernah luntur, walaupun tingkah laku mereka melebihi gemuruh di perut saya sejak pagi ini.

Saturday, 28 November 2015

Perempuan tua di lampu merah

Saya pernah menunggu lampu merah berubah menjadi lampu hijau. Seorang perempuan tua dan agak bungkuk berdiri di sebelah saya dengan tongkat di tangan kanannya dan tas kresek penuh dengan barang belanja di tangan kirinya. Lampu hijau menyala, kami mulai menyeberang. Saya memperhatikan langkah perempuan tua ini yang sangat lambat. saya mulai khawatir karena lampu hijau akan segera berubah jadi kuning.dan akan hanya beberapa detik lagi berubah jadi merah. saya mendekati nya dan menanyakan apakah saya bisa membantunya membawakan tas kreseknya. Tanpa melihat wajah saya dia dengan sigap mengatakan « tidak, terimakasih ». Saya pun melanjutkan langkah kaki saya sambil sekali-sekali melihat ke belakang memperhatikan perempuan tua tadi. Dia semakin jauh di belakang saya berjalan dengan lambat (pastinya ga jalan di tempat ya J). Jalanan mulai menanjak dan lagi-lagi saya menoleh ke belakang, dia semakin jauh tertinggal. Sambil sesekali terngiang jawabannya yang tegas dan pasti (tidak,terimakasih). Pelajaran indah yang saya dapat dari kisah ini adalah bahwa kemandirian individu di kota ini sangat tinggi. Berapapun usia anda, selagi anda bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain, anda akan melakukannya sendiri. Tidak manja dan tergantung dengan orang lain merupakan prinsip utama untuk bisa hidup mandiri. Saya menyadarinya semenjak saya menjadi guru di sekolah pendidikan anak usia dini di kota ini. Setiap anak dibekali kemandirian sejak usia dini.  Namun ada juga pelajaran yang ngga indah dari kisah ini yaitu saya sebagai penawar bantuan merasa tertolak saat ingin membantu orang lain. Saya merasa terlalu ramah dan terlalu baik terhadap orang lain yang tidak saya kenal. Kisah ini terjadi setelah dua bulan saya tinggal di kota ini. Saat itu saya langsung menyimpulkan bahwa tidak perlu ramah-ramah banget sama orang lain. Padahal ramah itu adalah bawaan lahir saya J. Namun yang sama sekali tidak boleh saya lupakan adalah bahwa perempuan tua itu punya hak untuk menolak bantuan saya. Setiap orang berhak untuk mengungkapkan pendapat terhadap orang lain. Mari belajar untuk menghargai pendapat orang lain baik itu mengenakkan atau mengenegkan J


Tuesday, 24 November 2015

Dokterku luar biasa


Setelah tinggal selama dua tahun lebih di kota ini, untuk pertama kalinya saya pergi menemui dokter umum (dokter keluarga) yang sebenarnya sudah terdaftar sejak kedatangan saya di sini. Pemilihan dokter keluarga adalah wajib dilakukan saat mendaftarkan diri pertama kali di salah satu asuransi kesehatan. Saat itu kami sama sekali tidak punya ide untuk memilih siapa yang akan menjadi dokter keluarga kami, namun karena dituntut kewajiban harus memilih salah satu nama dari daftar yang ada kamipun memilih dokter Nicolas Dolivo dengan alasan lokasi prakteknya yang tidak jauh dari tempat kami tinggal. Kenapa baru sekarang menemui dia setelah terdaftar dua tahun ?
Sebenarnya secara umum saya sangat sehat, demikian juga kesan pertama yang dilihat oleh dokter saya. Namun ada dua alasan yang mendorong saya pergi menemui dokter keluarga ini, yaitu alasan kesehatan dan alasan administratif. Dari segi kesehatan saya sering mengalami darah rendah dan selalu sakit perut dan diare setelah minum susu sapi. Dari segi administrasi bahwa saya membutuhkan surat keterangan sehat terbaru dari dokter, yang harus diserahkan kepada pihak sekolah dimana saya akan mulai bekerja bulan januari tahun depan. Sayapun membuat janji bertemu dengan dokter lewat perawat yang sekaligus asisten nya.
Kedatangan saya di tempat praktek dokter ini disambut baik oleh perawat dan kebetulan masih ada pasien lain yang sedang konsultasi dengan dokter di ruangan lain. Sayapun dipersilakan menunggu di ruang tunggu. Saya keluarkan catatan kecil titipan suami yang bisa membantu saya menjelaskan keadaan kesehatan saya dalam bahasa mereka, bahasa perancis. Berselang sepuluh menit kemudian seorang lelaki menggowes kursi rodanya ke arah saya dan menyuruh saya masuk ke ruang konsultasi. Saya bingung dan mulai bertanya dalam hati. Ramah sekali lelaki itu (yang dalam pikiran saya dia adalah pasien yang baru selesai diperiksa oleh dokter)! Sayapun masuk ke ruangan yang ditunjuk olehnya. Tidak ada siapapun yang duduk di balik meja di hadapan saya. Saya tetap berdiri sambil berpikir mungkin dokter saya sedang mempersiapkan diri di ruangan sebelah. Benar sekali, saya dengar beliau sedikit berteriak dari ruangan sebelah meminta saya menunggu dan mengatakan bahwa dia segera datang. Dia tidak ingkar janji, hanya beberapa detik dia sudah di hadapan saya. Dia adalah orang yang sebelumnya menyapa saya di ruang tunggu. Dia adalah dokter yang akan memeriksa saya. Dia adalah dokter keluarga yang kami pilih dua tahun lalu. Dia menyodorkan tangannya dan mengucapkan salam perkenalan. Ya, namanya dokter Nicolas Dolivo. Dokter yang bekerja di atas kursi roda.
Apakah kita, saya, orang lain, anda sebagai pembaca memiliki perasaan yang sama dengan kisah ini? Saya tidak bisa pastikan ya atau tidak. Namun di sini saya hanya ingin membagikan kisah indah yang saya alami. Saya memiliki dokter keluarga yang bekerja dari kursi rodanya. Apakah ini biasa dalam pandangan umum? Secara jujur saya katakan ini tidak biasa! Tapi saya berusaha biasa saat dia memeriksa keadaan saya. Kami berdialog layaknya pasien dan dokter. Terkadang saya memperhatikan dan terkagum dengan kecekatan dia menggowes roda kursinya dari ruangan konsultasi ke ruangan pemeriksaan. Saya menikmati setiap perbincangan dan proses pemeriksaan yang kami buat. Saya menemukan kenyamanan saat berbincang dengan dia. Dia mendukung pola hidup sehat yang saya jalankan. Terkadang dia mengoreksi cara saya mengucapkan beberapa kata dalam bahasa perancis. Diapun mengingatkan apakah saya sudah pernah disuntik vaksin cacar, karena saya akan bekerja dengan anak kecil. Pemeriksaan selesai dengan hasil sementara bahwa tekanan darah saya memang rendah. Namun dia tidak menganjurkan saya untuk mengkonsumsi obat hanya untuk menaikkan tekanan darah. Saya hanya disarakankan untuk minum air putih dan menjaga pola makan. Kunjungan saya akhiri dengan pengambilan beberapa cc darah oleh perawat dan saya diberikan kertas pertemuan untuk memeriksa intoleransi laktosa di laboratorium minggu berikutnya. Sepanjang perjalanan pulang saya masih terharu bangga bahwa seorang yang biasa seperti saya diperiksa oleh dokter yang luar biasa.