Saya pernah menunggu lampu merah berubah
menjadi lampu hijau. Seorang perempuan tua dan agak bungkuk berdiri di sebelah
saya dengan tongkat di tangan kanannya dan tas kresek penuh dengan barang
belanja di tangan kirinya. Lampu hijau menyala, kami mulai menyeberang. Saya
memperhatikan langkah perempuan tua ini yang sangat lambat. saya mulai khawatir
karena lampu hijau akan segera berubah jadi kuning.dan akan hanya beberapa
detik lagi berubah jadi merah. saya mendekati nya dan menanyakan apakah saya
bisa membantunya membawakan tas kreseknya. Tanpa melihat wajah saya dia dengan
sigap mengatakan « tidak, terimakasih ». Saya pun melanjutkan langkah
kaki saya sambil sekali-sekali melihat ke belakang memperhatikan perempuan tua
tadi. Dia semakin jauh di belakang saya berjalan dengan lambat (pastinya ga
jalan di tempat ya J). Jalanan mulai menanjak dan
lagi-lagi saya menoleh ke belakang, dia semakin jauh tertinggal. Sambil
sesekali terngiang jawabannya yang tegas dan pasti (tidak,terimakasih). Pelajaran
indah yang saya dapat dari kisah ini adalah bahwa kemandirian individu di kota
ini sangat tinggi. Berapapun usia anda, selagi anda bisa melakukan sesuatu
tanpa bantuan orang lain, anda akan melakukannya sendiri. Tidak manja dan
tergantung dengan orang lain merupakan prinsip utama untuk bisa hidup mandiri. Saya
menyadarinya semenjak saya menjadi guru di sekolah pendidikan anak usia dini di
kota ini. Setiap anak dibekali kemandirian sejak usia dini. Namun ada juga pelajaran yang ngga indah dari
kisah ini yaitu saya sebagai penawar bantuan merasa tertolak saat ingin
membantu orang lain. Saya merasa terlalu ramah dan terlalu baik terhadap orang
lain yang tidak saya kenal. Kisah ini terjadi setelah dua bulan saya tinggal di
kota ini. Saat itu saya langsung menyimpulkan bahwa tidak perlu ramah-ramah
banget sama orang lain. Padahal ramah itu adalah bawaan lahir saya J. Namun yang sama sekali tidak boleh saya
lupakan adalah bahwa perempuan tua itu punya hak untuk menolak bantuan saya. Setiap
orang berhak untuk mengungkapkan pendapat terhadap orang lain. Mari belajar
untuk menghargai pendapat orang lain baik itu mengenakkan atau mengenegkan J
Di sini kuhadir membawa cinta dan kepedulian untuk anak, perempuan dan masyarakat yang membutuhkan di seluruh dunia.
Saturday, 28 November 2015
Tuesday, 24 November 2015
Dokterku luar biasa
Setelah
tinggal selama dua tahun lebih di kota ini, untuk pertama kalinya saya pergi
menemui dokter umum (dokter keluarga) yang sebenarnya sudah terdaftar sejak
kedatangan saya di sini. Pemilihan dokter keluarga adalah wajib dilakukan saat
mendaftarkan diri pertama kali di salah satu asuransi kesehatan. Saat itu kami
sama sekali tidak punya ide untuk memilih siapa yang akan menjadi dokter
keluarga kami, namun karena dituntut kewajiban harus memilih salah satu nama
dari daftar yang ada kamipun memilih dokter Nicolas Dolivo dengan alasan lokasi
prakteknya yang tidak jauh dari tempat kami tinggal. Kenapa baru sekarang
menemui dia setelah terdaftar dua tahun ?
Sebenarnya
secara umum saya sangat sehat, demikian juga kesan pertama yang dilihat oleh dokter
saya. Namun ada dua alasan yang mendorong saya pergi menemui dokter keluarga ini,
yaitu alasan kesehatan dan alasan administratif. Dari segi kesehatan saya sering
mengalami darah rendah dan selalu sakit perut dan diare setelah minum susu
sapi. Dari segi administrasi bahwa saya membutuhkan surat keterangan sehat
terbaru dari dokter, yang harus diserahkan kepada pihak sekolah dimana saya
akan mulai bekerja bulan januari tahun depan. Sayapun
membuat janji bertemu dengan dokter lewat perawat yang sekaligus asisten nya.
Kedatangan
saya di tempat praktek dokter ini disambut baik oleh perawat dan kebetulan
masih ada pasien lain yang sedang konsultasi dengan dokter di ruangan lain.
Sayapun dipersilakan menunggu di ruang tunggu. Saya keluarkan catatan kecil
titipan suami yang bisa membantu saya menjelaskan keadaan kesehatan saya dalam bahasa
mereka, bahasa perancis. Berselang sepuluh menit kemudian seorang lelaki menggowes
kursi rodanya ke arah saya dan menyuruh saya masuk ke ruang konsultasi. Saya
bingung dan mulai bertanya dalam hati. Ramah sekali lelaki itu (yang dalam
pikiran saya dia adalah pasien yang baru selesai diperiksa oleh dokter)!
Sayapun masuk ke ruangan yang ditunjuk olehnya. Tidak ada siapapun yang duduk
di balik meja di hadapan saya. Saya tetap berdiri sambil berpikir mungkin
dokter saya sedang mempersiapkan diri di ruangan sebelah. Benar sekali, saya
dengar beliau sedikit berteriak dari ruangan sebelah meminta saya menunggu dan
mengatakan bahwa dia segera datang. Dia tidak ingkar janji, hanya beberapa detik
dia sudah di hadapan saya. Dia adalah orang yang sebelumnya menyapa saya di
ruang tunggu. Dia adalah dokter yang akan memeriksa saya. Dia adalah dokter
keluarga yang kami pilih dua tahun lalu. Dia menyodorkan tangannya dan
mengucapkan salam perkenalan. Ya, namanya dokter Nicolas Dolivo. Dokter yang
bekerja di atas kursi roda.
Apakah
kita, saya, orang lain, anda sebagai pembaca memiliki perasaan yang sama dengan
kisah ini? Saya tidak bisa pastikan ya atau tidak. Namun di sini saya hanya
ingin membagikan kisah indah yang saya alami. Saya memiliki dokter keluarga
yang bekerja dari kursi rodanya. Apakah ini biasa dalam pandangan umum? Secara
jujur saya katakan ini tidak biasa! Tapi saya berusaha biasa saat dia memeriksa
keadaan saya. Kami berdialog layaknya pasien dan dokter. Terkadang saya
memperhatikan dan terkagum dengan kecekatan dia menggowes roda kursinya dari
ruangan konsultasi ke ruangan pemeriksaan. Saya menikmati setiap perbincangan
dan proses pemeriksaan yang kami buat. Saya menemukan kenyamanan saat
berbincang dengan dia. Dia mendukung pola hidup sehat yang saya jalankan.
Terkadang dia mengoreksi cara saya mengucapkan beberapa kata dalam bahasa perancis.
Diapun mengingatkan apakah saya sudah pernah disuntik vaksin cacar, karena saya
akan bekerja dengan anak kecil. Pemeriksaan selesai dengan hasil sementara
bahwa tekanan darah saya memang rendah. Namun dia tidak menganjurkan saya untuk
mengkonsumsi obat hanya untuk menaikkan tekanan darah. Saya hanya disarakankan
untuk minum air putih dan menjaga pola makan. Kunjungan saya akhiri dengan
pengambilan beberapa cc darah oleh perawat dan saya diberikan kertas pertemuan
untuk memeriksa intoleransi laktosa di laboratorium minggu berikutnya.
Sepanjang perjalanan pulang saya masih terharu bangga bahwa seorang yang biasa seperti
saya diperiksa oleh dokter yang luar biasa.
Saturday, 16 May 2015
Lausanne, kota ramah anak
Setelah tinggal selama 22 bulan di kota ini, 10 bulan magang di PAUD dan sekarang menjadi guru pengganti di PAUD
saat guru tetap berhalangan, serta menjadi pendamping anak di sela-sela waktu
kosong, saya semakin yakin dengan julukan yang saya kasih untuk kota ini, kota
yang ramah bagi anak. Ya, Lausanne adalah kota yang ramah anak. Bagaimana tidak
saya memberi julukan ini!Saya melihat dan menikmati semua kenyamanan ini, saya
orang dewasa yang bekerja untuk anak saja senang, nyaman dan puas apalagi anak
yang menjadi subjek penikmat!Dan karena penasaran dengan julukan ini saya coba
ketik di google betulkah kota ini kota yang ramah bagi anak. Dan hasilnya
adalah bahwa pada tahun 2006 UNICEF Swiss memberikan sertifikat dan julukan
untuk kota Lausanne, kota terbesar pertama di negara Swiss, provinsi pertama di
Swiss roman yang ramah bagi anak. Tentunya ada berbagai alasan kuat mengapa UNICEF Swiss memberikan julukan ini. Secara pribadi saya akan memaparkan alasan saya memberikan julukan ini.
Secara geografis kota Lausanne berada di tepi danau Leman (umum: danau
Genewa), dimana pemerintah sudah mengatur cara pendirian bangunan di tepi
danau. Sehingga banyak terdapat taman dan pantai yang rapi dan bersih di
sepanjang tepi danau. Ketika anak dibawa bermain ke tepi danau, mereka bisa
berlari, bermain dan menikmati keindahan danau dengan sepuasnya. Di daerah
pelabuhan berjejer kapal-kapal milik pribadi yang tentunya menarik bagi anak.
Ada juga kapal-kapal besar yang dipakai sebagai transportasi umum. Selain itu
banyak terdapat unggas danau, seperti angsa, bebek, dan bermacam burung yang
biasanya mencari makan di tepian danau. Jumlah mereka tidak sedikit terkadang
seorang anak akan kewalahan ketika unggas-unggas ini datang menghampiri.
Biasanya di musim panas, anak-anak akan berenang dan bermain pasir dan kerikil
di pantai-pantai tepi danau ini . Indah bukan?
Kita akan beranjak ke taman umum yang disediakan oleh pemerintah.
Taman-taman ini bisa ditemukan hampir secara rata di setiap sudut kota. Fasilitas
yang disediakan pun beragam, untuk anak-anak, dewasa dan orangtua. Di taman
bermain untuk anak biasanya dibangun sarana permainan yang selalu disesuaikan
dengan umur anak. Dan semua fasilitas ini gratis!Orangtua atau pendamping anak
hanya bertugas untuk mendampingi dan mengawasi anak masing-masing. Fasilitas
ini sangat bagus untuk memenuhi kebutuhan anak aktif dan juga bisa bermain
dengan anak-anak lain. Biasanya, orangtua yang tidak bekerja akan membawa anak
mereka ke taman-taman bermain ini. Apabila akhir pekan tiba dan cuaca baik,
taman-taman ini akan ramai sekali.
Bagi anak-anak yang kedua orangtuanya bekerja, tidak merasa kesulitan
karena di kota Lausanne terdapat banyak garderie/ “daycare”/PAUD atau tempat
penitipan anak bagi anak yang berusia 3 bulan hingga 4 tahun yang dikelola oleh swasta
juga pemerintah. Bagi anak yang sudah masuk sekolah yaitu mulai dari umur
4 tahun, pemerintah juga menyediakan tempat khusus yang disebut APEMS atau kegiatan non formal di luar jam sekolah. Pendidik yang bekerja di Garderie dan
APEMS tersebut juga tidak asal sembarang pendidik. Untuk bisa menjadi pendidik
di sekolah-sekolah non formal ini, mereka harus melalui sistem pendidikan
formal juga. Untuk menjadi asisten pendidik harus kuliah selama dua tahun dan
untuk menjadi pendidik harus kuliah selama tiga tahun. Tentunya pelajaran yang
didalami adalah mengenai perkembangan dan pendidikan anak. Dengan adanya
sekolah-sekolah non formal ini, orangtua yang bekerja tidak perlu khawatir
mengenai kegiatan anaknya sepanjang hari.
Selain itu, kelebihan kota Lausanne bagi anak-anak adalah banyaknya museum
yang bagus bagi penambahan pengetahuan anak. Selain bisa pergi bersama
orangtua, biasanya di sekolah ada program kunjungan museum oleh guru sesuai
dengan mata pelajaran penuntut.
Dari segi transportasi, bagi saya pribadi kota Lausanne sangat baik,
teratur dan ramah bagi setiap umur khususnya untuk anak dan orang lanjut usia. Di
dalam bus, metro, kereta dan kapal selalu disediakan area dengan tanda kereta
dorong atau kursi roda. Begitu pula saat akan turun dari bus, ada tombol dengan
simbol kereta dorong bayi yang memberikan tanda bahwa akan ada bayi yang akan
turun dari bus, si pengemudi akan merendahkan posisi bus sehingga karena bisa
turun dengan lancar, dan sebaliknya mau naik ke dalam bus. Kenyamanan ini
menguntungkan bagi orangtua. Itu sebabnya di pusat kota Lausanne akan banyak
terlihat orangtua yang mendorong anak mereka dengan kereta bayi tanpa harus
khawatir mengenai ketidaknyamanan dan tanpa harus menggendong anak sepanjang
jalan.
Masih banyak kenyamanan dan keramahan lain dari kota ini untuk anak-anak. Di
lain waktu saya akan menulisnya secara detail dan tentunya ketika motivasi
untuk menulis saya sedang baik. Heheh, selamat menikmati tulisan dan foto-foto
kota Lausanne. Semoga keramahan ini bisa dialami oleh anak-anak lain di
dunia.Salam ramah anak :)
Thursday, 19 February 2015
Nama adalah identitas bagi anak
Masih berlanjut soal cara memanggil nama, tapi kali ini cara memanggil nama
bagi anak oleh orang dewasa termasuk oleh orangtuanya. Lagi-lagi tulisan ini
adalah hasil refleksi pribadi yang kadang menggelitik namun juga gerah dalam
kepalaku. Sekali lagi, ini bukan sindiran tetapi karena keinginan untuk
berbagi dengan pembaca baru juga pembaca setia blog ini.
Pemberian nama bagi setiap anak yang baru lahir pastinya membutuhkan usaha
dan cara beragam. Ada orangtua yang sibuk bertanya ke sana ke mari, membaca
dalam buku kumpulan nama-nama bayi, mencari di dalam internet, meminta masukan
dari orang-orang yang lebih tua dan banyak cara lainnya. Nama-nama yang terpilih dan
akhirnya diberikan kepada anak juga beragam, ada yang pendek, sedang, panjang
dan sangat-sangat panjang. Ini hanyalah nama depan. Belum bagi suku-suku
tertentu yang memiliki budaya memberikan nama keluarga di belakang nama depan
dan ada juga istilah nama baptis untuk agama tertentu.
Adapun setiap orangtua memiliki maksud di balik pemilihan nama bagi anak
mereka. Setiap nama akan memiliki arti masing-masing. Nama indah dengan arti
yang lebih indah lagi menjadi simbol adanya harapan kebaikan di baliknya. Banyak
orangtua berharap bahwa apabila anak menyandang nama yang indah dengan arti
yang indah, dia akan menjadi orang yang baik, bijaksana, sopan, berhasil,
makmur, jaya, sentosa, bahagia di masa depannya. Mau satu contoh satu nama yang
agak panjang? Misalnya saja nama saya sebelum menikah Fatmawati Indah Lestari Girsang.
Saya memiliki tiga nama depan. Fatma yang berarti bunga teratai, wati yang
berarti perempuan, Indah yang berarti menarik/enak dipandang, Lestari yang berarti
selalu hidup subur dan terawat, sedangkan Girsang adalah nama keluarga/marga
batak yang saya sandang dari bapak saya. Nah apabila disambungkan artinya
kira-kira demikian: seorang perempuan yang menarik enak dipandang mata seperti
bunga teratai yang subur anak dari bapak Girsang. Aduh bagus sekali bukan? Saya
yakin pasti masih banyak contoh nama-nama yang bagus dan menarik lainnya yang
disandangkan kepada anak.
Sebenarnya apa hal yang menggelitik dalam kepala saya yang membawa saya
pada niat untuk berceloteh lewat tulisan ini?Jelas sekali karena keindahan nama
pemberian orangtua ini. Anak yang menyandang nama sedemikian panjang dan indah
mungkin bangga memiliki nama panjang dengan arti yang bagus. Namun apakah
orangtua semuanya konsisten dengan nama yang dia sandangkan bagi anak?Akhir-akhir ini tidak
sedikit orangtua yang baru memiliki anak, dengan bangga mengunggah foto anak
mereka di media sosial dengan penjelasan tulisan nama anak yang panjang dan
indah. Bblablablabla......Yang membuat saya tersenyum pahit adalah saat si ibu
memberikan nama kecil untuk anaknya “si pesek”. Supaya lebih jelas lagi dia
dengan bangga membalas komentar teman-temannya dengan penjelasan yang
mengarahkan mereka menilai hiduang anaknya, “iya lho lihat aja tuh hidungnya
pesek banget”. Kemudian ditimpali oleh teman-temannya lagi: “si pesek nan
cantik”, “si pesek tapi putih”. Hampir
setiap hari foto anaknya diunggah dalam media sosial ini dengan tulisan
penjelasan: si pesek lagi minum, si pesek lagi bobo,dan blablablabla...
Nama-nama panggilan ini tidak hanya tercipta dengan melihat kekurangan
anak, sebaliknya juga ada yang memanggil anaknya dengan sebutan “si mancung
kami”, “si putih kami”, "si gendut", "si montok", "si cantik", "si ganteng" dan biasanya ditambah dengan komentar pujian seperti:
iya mancung banget hidungnya, kayak bule. Ada juga yang sangat drastis: putih
banget ya padahal bapak-mamanya itam dekil. Atau dengan pujian lain: wah
rambutnya lurus kayaknya tuh, gak keriting kayak bapaknya. Blablablabla....
Dengan nama panggilan yang dianggap “lucu” ini saya menjadi teringat dengan
contoh-contoh lain yang sebenarnya banyak sekali saya jumpai bahkan saya alami
semasa kecil. Sampai saat ini masih jelas saya ingat nama panggilan bagi saya oleh
saudara-saudara saya waktu itu “si birong”, “si birong galot”, yang artinya si hitam, si hitam seperti babi
hutan. Memasuki masa SMP saya dipanggil “si tepos” oleh beberapa teman
laki-laki. Memasuki masa SMA saya dipanggil “si rambut singa” oleh beberapa
teman perempuan. Memasuki masa kuliah saya dipanggil “si batak” oleh beberapa
teman nongkrong, karena aksen berbicara saya. Sepertinya masa pergaulan saya
tidak lepas dari nama panggilan yang melekat dengan fisik dan penampilan luar
saya. Apakah hanya saya yang mengalami hal seperti ini? Saya yakin tidak!!
Pemberian nama panggilan yang mengarah ke fisik anak sepertinya menjadi hal
biasa bagi beberapa orang dewasa. Motifnyapun mungkin beragam, mungkin ada yang
ingin kelihatan lucu, mungkin juga ingin mempertegas keadaan fisik si anak.
Namun taukah kita (orang dewasa), di balik nama-nama yang kita anggap lucu
tersebut akan berakibat tidak baik baik anak?Tidak hanya sebatas teringat
seperti halnya saya sekarang, tetapi jauh lebih lagi. Anak yang dipanggil
dengan nama-nama yang mengarah kepada penilaian fisiknya akan tumbuh menjadi
anak yang kurang percaya diri dan juga sebaliknya akan tumbuh menjadi anak yang
tinggi hati. Menilai fisik orang lain akan menjadi hal biasa bagi anak. Anak
akan melihat manusia dari cara orangtuanya menilai dia. Tidak heran juga banyak
anak akan memilih teman bermainnya dari fisik atau penampilan luarnya. Contoh
yang lebih bahaya lagi adalah anak akan heran melihat bahwa ada suku lain yang
memiliki warna kulit, ukuran hidung, dan jenis rambut yang berbeda.
Apakah hal-hal yang saya paparkan di atas hal sepele?Saya rasa tidak. Mari
kita amati di sekitar kita, banyak orang dewasa yang dulunya adalah “anak” yang menyandang nama-nama indah pemberian
orangtua, mungkin di masa pertumbuhannya dia menyandang nama panggilan yang
merujuk ke fisiknya, mungkin juga dia tumbuh dalam keluarga yang memberikan
nama panggilan “lucu” bagi ornaglain, semuanya hanya kemungkinana. Sehingga
banyak saya amati manusia yang menjadi komentator-komentator rasis di media.
Mereka berdebat dan berkomentar dengan mengangkat suku, agama, aliran, warna
kulit, keturunan, bentuk tubuh, jenis rambut, bentuk hidung, dan
blablablabla....ah sudahlah, saya sedih!!
Dan apa kabar nama-nama indah yang disandangkan oleh orangtua kepada anak?Mungkin
mereka hanya tinggal nama :I
Thursday, 12 February 2015
Perbedaan cara memanggil nama
Kali ini saya akan menulis tentang perbedaan lain yang
mencolok di antara negara saya, Indonesia dan negara tempat tinggal saya sekarang,
Swiss. Sekali lagi buat para pembaca baru ataupun yang setia mengikuti blog
saya, ini hanyalah hasil observasi dan adaptasi saya di tempat baru. Jadi, isi blog
saya ini sesuai fakta namun saya tidak mengharuskan anda untuk setuju dengan
tulisan saya. Tujuan saya selalu pada satu hal: ingin berbagi J
Hal yang paling membingungkan saat pertama kali berkunjung
ke sini adalah bagaiman cara memanggil calon mertua saya? Saya yang asli suku
batak sudah hafal sejak kecil, panggilan untuk calon mertua perempuan adalah namboru
dan panggilan untuk calon mertua laki-laki adalah mangkela. Tapi mereka
bukanlah suku batak, jadi saya tanya Patrick boleh atau tidak saya memanggil mereka dengan ibu dan bapak saja(tentunya
ibu dan bapak dalam bahasa perancis, madame et monsieur). Dia menjelaskan kalau
panggilan tersebut terlalu formal dan kaku, tidak menunjukkan kedekatan. Panggilan
ini berlaku untuk orang yang kita temui/berpapasan di jalan, di toko, di
kantor, atau untuk pengajar di sekolah formal. Saya tawarkan kembali, atau
mungkin dengan istilah mama dan papa (maman et papa), dia malah tertawa dan
bilang itu panggilan ke orangtua oleh anak. Dia menyuruh saya untuk memanggil
orangtuanya dengan nama masing-masing saja. Mereka akan merasa dihormati
apabila saya memanggil mereka dengan nama masing-masing. Saya bersikukuh bilang
bahwa lidah saya tidak sanggup untuk menyebut nama mereka. Dalam budaya suku
batak, menyebut nama orangtua adalah satu hal yang pantang. Nama orangtua
berada pada tempat suci dan tidak tersentuh J.
Hingga enam bulan mengenal mertua saya, akhirnya seiring dengan masa adaptasi,
saya berhasil memanggil nama mereka dengan jelas dan tanpa malu-malu.
Sebelumnya saya hanya berkomunikasi tanpa menyebut nama langsung saat memanggil
mereka. Saat saya jelaskan kepada orangtua saya, mereka heran dan bilang tidak
sopan memanggil mertua dengan menyebut nama. Saya berusaha menjelaskan budaya
di negara ini memang seperti itu dan mereka samasekali tidak keberatan.
Cara ini juga berlaku bagi anak-anak yang di tempat saya
bekerja. Mereka memanggil pendidik anak dengan nama masing-masing. Tanpa embel-embel,
ibu, bapak, abang, kakak, mas,mba atau seperti sebutan lain yang biasa saya
pakai di negara saya. Di sela-sela diskusi saat makan bersama, mereka juga
sering saling bertanya nama orangtua masing-masing dan dengan bangga mereka
akan menyebutkan nama orangtua dari temannya. Saya yang duduk di dekat mereka
juga tidak terlewat dari interogasi ini. “Fatma, nama mamamu siapa? Terus nama papamu?”. Saya dengan tersenyum memberitahu mereka nama mama dan papa saya.
Situasi ini membawa ingatan saya ke masa kecil dimana saat duduk di SD, saya
dan teman-teman saling mengejek dengan nama orangtua masing-masing. Tidak sedikit
di antara kami akhirnya menangis karena nama orangtuanya disebutkan dan kami
akan malu karena teman yang lain akhirnya tahu siapa nama orangtua kami. Begitu
berharganya nama orangtua bagi anak-anak di desa saya sehingga dijaga dengan
sangat rahasia J
Contoh lain yang teraktual akhir-akhir ini adalah panggilan untuk
saya yang diberikan oleh anak-anak teman saya. Mereka adalah anak-anak hasil
kawin campur, mama mereka orang Indonesia dan papa mereka orang Swiss. Karena
hasil kawin campur, anak-anak ini bisa berbahasa indonesia dan perancis dengan
lancar. Setiap bertemu saya selalu usahakan berbahasa indonesia kepada mereka.
Mereka memanggil saya dengan sebutan tata/tante Fatma. Namun terkadang lidah kami
keseleo dan akhirnya kami juga berbahasa perancis dan dengan otomatis mereka memanggil
saya dengan sebutan Fatma, tanpa embel-embel lagi. Saya hanya bisa tertawa :D sambil memberitahu kepada ibunya.
Contoh lain adalah minggu lalu saat saya melakukan satu hari
observasi calon anak dampingan saya bersama mamanya. Anak ini juga merupakan anak
hasil kawin campur, mamanya orang Korea dan papanya orang Belanda. Saat kami
berjalan-jalan menikmati matahari di tepi danau, sambil berkomunikasi dengan
anaknya dengan bahasa korea saya mendengar istilah Fatma nuna. Dia menjelaskan
kepada saya bahwa Fatma nuna artinya kakak perempuan bernama Fatma. Hampir sama
dengan di Indonesia, budaya di Korea juga tidak elok memanggil orang yang lebih
tua dengan menyebut nama langsung, harus selalu menggunakan embel-embel oppa,
nuna dll. Saya lagi-lagi tersenyum J
Contoh-contoh yangs aya paparkan di atas merupakan fakta
yang memberikan ruang refleksi bagi saya. Anak-anak ini jelas memiliki dua
budaya yang tertanam di dalam dirinya, budaya yang menjadi identitasnya di masa
depan. Memang setiap suku dan bangsa memiliki
cara, kebiasaan dan budaya masing-masing, tanpa harus menilai rendah atau
menilai tinggi satu dengan yang lain. Hanya saja dibutuhkan keinginan untuk belajar
beradaptasi J
Wednesday, 11 February 2015
Anak membuang makanan
Penting bagi anak anda
untuk tahu cara makan. Mungkin awal-awal akan kacau. Anda tidak akan nyaman melihat
semua berantakan, tetapi hal ini merupakan bagian dari usaha anak anda menjadi
mandiri. Apabila anda tidak ingin waktu makan berubah menjadi waktu yang buruk,
maka jangan hukum anak anda ketika dia tidak ingin makan atau makanan
berantakan kemana-mana.
Sebenarnya kenapa anak
membuang makanan?
Beberapa anak lebih
tertarik dengan mainan daripada makanan atau mereka memiliki kesulitan untuk
duduk tenang dalam waktu tertentu sehingga reaksi yang mereka tunjukkan adalah
dengan membuang makanan.
- - Mungkin ini
adalah tanda kalau anak anda sudah kenyang dan ingin selesai makan. Coba untuk
tidak pusing dengan seberapa banyak dia makan: dia makan berarti dia lapar.
Jangan berikan dia makanan manis atau cemilan terlalu berat selama dua jam
sebelum makan, kalau tidak dia pasti tidak akan lapar lagi saat waktunya makan.
- - Dia mencoba
mencari perhatian anda. Cobalah beri perhatian pada anak anda dan berikan pujian
saat dia membuat gerakan yang baik.
Bagaimana caranya
mencegah agar anak tidak membuang makanan?
- - Tarik piring yang
ada di depannya secara berkala saat dia ingin membuang makanan dan anda bisa
katakan bahwa membuang makanan tidak baik. Dia akan perlahan mengerti bahwa
tidak dibenarkan membuang makanan. Cobalah bersabar :)
- Ajak anak anda untuk ikut membantu anda membersihkan makanan yang berantakan.
- Ajak anak anda untuk ikut membantu anda membersihkan makanan yang berantakan.
Tuesday, 10 February 2015
Perbedaan cara memberi makan pada anak
Di negara saya , Indonesia, bisa dibilang banyak anak makan tidak di meja makan. Orangtua atau pengasuh anak memberi makan anak di luar rumah sambil dibawa jalan-jalan sore menggunakan
kereta dorong atau sambil bermain gelantungan di taman. Ada juga yang memberi
makan di ruang tamu sambil menghidupkan televisi atau sambil anak bermain di
lantai dan akhirnya main kejar-kejaran. Cara-cara tersebut kebanyakan bertujuan
agar anak mau makan. Jalan-jalan, mainan, televisi atau aktivitas lain
dilakukan untuk mengalihkan perhatian anak pada konsentrasi makan. “katanya”
biar anak tidak sadar pas disuap/disogok makanan ke dalam mulutnya. Banyak orangtua
yang pusing atau takut apabila anak tidak mau makan atau tidak berhasil makan
dengan baik. Sehingga biasanya cara lainpun akan dicari agar anak berhasil
makan. Cara unik lain adalah dengan membawa anak jalan-jalan dengan mobil
keliling kompleks sambil disuap dengan makanan. Setelah makanan habis barulah
kembali ke rumah. Tidak jarang pula anak akhirnya makan makanan yang dingin karena membutuhkan waktu berjam-jam untuk menghabiskannya. Dari keseluruhan cara ini, pastinya anak tidak makan dengan
tangan sendiri. Orangtua atau pengasuh yang bertugas menyuap/menyogok makanan
ke dalam mulut anak. Sedangkan tangan anak hanya diam atau sibuk dengan mainan
yang sudah disediakan. Tidak sedikit
anak yang hingga umur 5 tahun masih disuap dengan cara-cara di atas setiap jam
makan. Sehingga orangtua harus membagi waktu untuk menyuap anak dan makan untuk dirinya sendiri. Beberapa orangtua mengambil langkah menyuapi anak dengan alasan agar makanan tidak berserakan di lantai dan akhirnya mengotori lantai. Sehingga tidak perlu repot lagi membersihkannya.
Lalu, bagaimana dengan cara memberi makan anak di negara
Swiss? Sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya bekerja di sekolah PAUD di
negara ini, saya akan berbagi sedikit bagi anda yang penasaran. Mungkin bagi
orang yang belum tahu akan melihat ini sebagai cara yang kaku atau sebaliknya. Mari
kita lihat perbedaanya. Sebelum jam makan, anak akan diingatkan kira-kira
beberapa menit lagi waktunya makan. Kemudian orang dewasa akan menyiapkan meja
dan peralatan makan sesuai dengan jumlah orang yang makan. Kursi untuk anak
akan disesuaikan dengan usianya. Anak bayi yang belum bisa duduk akan diberi
makan di kursi khusus dengan posisi berbaring, sedangkan anak yang sudah bisa
duduk akan duduk di kursi bayi yang ukuran dan bentuknya berbeda dengan kursi
orang dewasa. Sebelum makan biasanya orang dewasa akan menjelaskan dengan singkat
menu yang tersedia. Waktunya makan, tidak semua anak bayi yang duduk bersama
orangtua akan makan dengan sendok yang sudah disediakan. Bayi usia 7 bulan-1,5
tahun mulai belajar makan sendiri dengan menggunakan tangan. Orang dewasa akan
dengan pengertian mengarahkan tangannnya menggunakan sendok, walaupun akhirnya
anak akan mencoba meraih makanan sendiri dan memasukkan ke mulutnya dengan
tangan. Sedangkan anak yang sudah berusia di atas 1,5 tahun tahun biasanya
sudah mulai lancar makan sendiri dengan sendok dan pisau pemotong makanan.
Apakah dengan cara ini ada jaminan lantai akan bersih dari makanan jatuh?Tidak
samasekali!Pasti selalu ada makanan yang jatuh ataupun air minum yang tumpah. Sambil
makan, biasanya akan ada diskusi di meja makan, antara anak dan orang dewasa
atau antara anak-anak itu sendiri. Ada dinamika, canda, tawa dan sopan santun
yang tercipta. Misalnya saat anak meminta makanan tambahan dia akan meminta
dengan kata tolong dan ditutup dengan kata terimakasih. Tentunya anak akan
disarankan tidak bernyanyi saat waktunya makan atau tidak bermain dengan
alat-alat makan di depannya. Dari kebiasaan ini saya mempelajari banyak hal baik
dan berniat menulisnya sebagai bentuk refleksi.
Sekali lagi, kebiasaan yang baik sejak kecil
akan memberi hasil yang baik bagi masa depan anak.
Mari belajar bersama :)
Subscribe to:
Posts (Atom)